Penelitian Dicabut Dengan Upacara Adat? 43
Selasa, 25 Jan '11 18:22, dibaca 846 kali
Kasus video mesum Nazriel "Ariel Peterpan" Ilham rupanya punya cerita "sampiran". Cerita itu adalah diprotesnya saksi ahli dalam persidangan kasus tersebut yaitu Tamrin Amal Tomagola. Dalam persidangan yang berlangsung tanggal 3 Desember 2010 tersebut Tamrin menyatakan, "Dari hasil penelitian saya di Dayak itu, bersenggama tanpa diikat oleh perkawinan oleh sejumlah masyarakat sana sudah dianggap biasa. Malah, hal itu dianggap sebagai pembelajaran seks."(kutipan dari sini). Karuan saja pernyataan yang dianggap melecehkan suku bangsa Dayak itu diprotes keras. Di Politikana pun sempat muncul tulisan yang menentangnya. Bahkan digelar pula demonstrasi di Kalimantan Barat, Tengah dan Jakarta untuk menolak pernyataan Tamrin itu.
Pada hari Sabtu (22/1) kemarin, akhirnya sosiolog Universitas Indonesia itu menjalani sidang adat yang disebut Maniring Tuntang Manetes Hinting Bunu. Dalam sidang yang berlangsung di Palangkaraya-Kalimantan Tengah itu Tamrin divonis oleh majelis sidang bersalah melanggar adat. Ada enam poin putusan yang dijatuhkan dalam sidang adat tersebut (lengkapnya baca di sini).
Yang meresahkan saya adalah, poin kelima dalam putusan itu menuntut Tamrin memusnahkan hasil penelitiannya soal masyarakat adat Dayak. What?
Bagaimana ini bisa terjadi? Sebuah penelitian ilmiah kemudian harus dimusnahkan gara-gara ada elemen masyarakat yang menjadi subyek penelitian tak setuju? Cara itu justru menunjukkan kalau isi penelitian bisa jadi memang benar.
Sebenarnya kalau masyarakat adat Dayak ingin menunjukkan bahwa mereka merupakan suku bangsa tua yang berbudaya luhur, biarkan saja hasil penelitian itu. Kalau memang ragu dengan penelitian tersebut, buat penelitian lain dan publikasikan hasilnya. Siapa tahu memang ada perbedaan metode, pengambilan sampel dan sebagainya yang membuat hasilnya berbeda. Memusnahkan hasil penelitian identik dengan pembakaran buku. Dan membakar buku sama saja dengan memusnahkan budaya manusia.
[Foto Tamrin Amal Tomagola dari eramuslim.com]
Tag: adat, seks, dayak, penelitian, ariel, Tamrin Amal Tomagola
Terkait:
-
Sapi oh sapi...
Sabtu, 12 Jun '10 07:07 -
Isi Otak Lelaki
Sabtu, 19 Mei '12 09:21 -
Manji dan Jumanji
Senin, 7 Mei '12 17:08
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Nazil: Menarik
-
botaksakti: Menarik
-
emina: Bagus
-
Felipe: Menarik
-
Rajawali: Bagus
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
Maximillian: Menarik
-
-Mafia hitam-: Menarik
-
BocahnDeso: Menarik
-
Lailatul 'Ursy: Biasa
-
losun: Menarik
-
Tender Watch: Menarik
-
darsono: Menarik
-
boiga: Menarik
-
Black Horse: Menarik
-
Last Man Standing: Lucu
-
Whispering Wind: Menarik
-
ndableg: Menarik
-
Coulrophobia: Menarik
-
Yudiantoro: Menarik
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
GusBushTom: Penting
-
conscientizacao: Penting
-
anti-fenomena: Menarik
-
rohanisyawaliah:

Komentar:
mempertahankan sikapnya
apapun resikonya. Ketika ia
menyerah oleh adat, jangan-
jangan memang ia merasa ada
kekeliruan dalam penelitiannya.
Dengan demikian, yang salah
seolah adatnya bukan
keilmiahannya]
mungkin beliau nggak mau ada elemen masyarakat yang tersakiti oleh hasil penelitian yang beliau buat(meskipun benar). Justru saya salut pada beliau brada
tak hormat dulu
Eh, ini mah hukum umum ya?
Lalu apa yang perlu? Kesadaran melestarikan adat mestinya diperbanyak? Aktualisasi nilai-nilai adat dengan memperkenalkannya lagi?
Ini juga umum sekali.
Herannya umum-umum gitu tapi kok kita lupa terus ya?
Baru ingat kalau panah-rencong-keris-kujang-mandau sudah bicara.
96: primitivisme kadang menggugah kemanusiaan kita
jangan2 ada kepentingan politik ?
#eh
Eh, ini mah hukum umum ya?
Lalu apa yang perlu? Kesadaran melestarikan adat mestinya diperbanyak? Aktualisasi nilai-nilai adat dengan memperkenalkannya lagi?
Ini juga umum sekali.
Herannya umum-umum gitu tapi kok kita lupa terus ya?
Baru ingat kalau panah-rencong-keris-kujang-mandau sudah bicara.
Tapi perlu disadari kok siapa sih yang ikhlas kalau adat dan budayanya diejek/dilecehkan orang lain. Kita aja lah, sering kan??
iya juga ya *baru ingat juga
banyak jargon 'adat harus dilestarikan'. tapi sekarang masalah adat jadi dipertanyakan. Ini 'adat'nya atau orang-orang yang menterjemahkannya ya
Bukan, metafisik
#ups
saya gak tau maksud dari pencabutan hasil penelitian itu bagaimana, apakah dengan cara menganggap penelitian itu tidak ada
ataukah tidak menyebarkan hasil penelitian itu
apa mencabut paper, atau makalah, atau laporan tentang hasil dari penelitian itu
kebanyakan orang, mungkin begitu.
Tapi saya sendiri, tidak. Saya, anehnya, sebagai orang sunda tanpa campuran apapun malah kadang ga terlalu peduli juga dengan adat sunda. Walau mungkin secara tak sadar, kehidupan sehari2 atau tindak tanduk saya terpengaruhi oleh adat sunda.
Soalnya belum paham semua tentang adat sunda. Kalau agama yang dilecehkan, barulah ga ikhlas
mesti ada contohnya dulu sih. Melecehkan adat sunda misalnya...apa ya? jadi pengen nyoba nih, kira-kira saya terpancing ga ya?
misalnya apa? legenda sangkuriang ternyata adalah penyimpangan seksual? haha, saya malah pingin cerita itu diganti labelnya, bukan untuk anak2 dan ga dimasukkan dalam kurikulum pelajaran di sunda. Itu mah buat orang dewasa ajah.
atau apa?
Terpancing nggak ?
AP...eh *mendinginkan kepala*
ah, itu kan cuma generalisir saja, pak. Tidak semua-nya seperti itu kok. Lha ibu saya sebaliknya: sangat bisa memasak, pandai mengatur uang, dan tentu saja cantik hohoho
hanya saja, itu tidak menurun pada anaknya
Soal budaya manajemen keuangan, kontrol pendidikan anak, dan memasak, itu perkara "adat". Saya sudah pernah menulis soal Perempuan Jawa di sini : http://www.politi…rempuan-jawa
Saya nggak mau berpihak ke salah satu, hanya ingin menyampaikan, bahwa dalam satu pulau pun, ada bermacam lingkaran sosial yang beda "adat", mari kita bangun toleransi
wew, saya telat baca tulisannya. Itu sebelum saya masuk P. Coba skarang ada lagi artikel tentang budaya perempuan, sunda apalagi. Hehe.
nanti saya mau buat ah!
[oal budaya manajemen keuangan, kontrol pendidikan anak, dan memasak, itu perkara "adat"]
bisa saja begitu. Walau tidak bisa digeneralisir juga -karena adatnya begitu, jadi semua perempuan sunda pun begitu. Dan, adat itu bisa diubah, menurut saya. Ga mesti membentuk diri menjadi seperti adat seperti itu. Jika kita sudah paham bahwa ada beberapa adat yang tidak sesuai dengan prinsip diri kita sendiri, ya berubahlah. Minimal dari pribadi sendiri. Lalu itu bisa dikomunikasikan dengan keluarga. Semua itu, bisa dikomunikasikan
Ya, tentu. Mari bangun toleransi. Soalnya saya pun tak menganggap budaya yang satu lebih agung/hebat dari yang lainnya.
Silakan, saya menunggu.
[ Walau tidak bisa digeneralisir juga -karena adatnya begitu, jadi semua perempuan sunda pun begitu. ]
Saya tidak bermaksud pukul rata, hanya, setiap lingkaran komunitas, pasti punya ciri khas, itu yang saya maksud dengan budaya komunitas.
hehe. budaya komunitas? aha, saya harus belajar lagi *duh bahasan menarik tapi udh ga kuat ngantuk*
saya off duluan, udah lewat jam tidur
*menghilang*
[Bagaimana ini bisa terjadi? Sebuah penelitian ilmiah kemudian harus dimusnahkan gara-gara ada elemen masyarakat yang menjadi subyek penelitian tak setuju? Cara itu justru menunjukkan kalau isi penelitian bisa jadi memang benar.]
Negara saja mengakui dan menghormati hukum adat, apalagi hanya seorang Tamrin Amal Tomagola...
Pasal 18B, Ayat (2) UUD 1945:
"Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang."
Pasal 6 UNDANG - UNDANG NO. 39 TAHUN 1999
TENTANG HAK ASASI MANUSIA:
(1) Dalam rangka penegakan hak asasi manusia, perbedaan dan kebutuhan dalam masyarakat hukum adat harus diperhatikan dan dilindungi oleh hukum, masyrarakat, dan pemerintah
(2) Identitas budaya masyarakat hukum adat, termasuk hak atas tanah ulayat dilindungi,
selaras dengan perkembangan zaman.
Mintanya bukan dimusnahkan tapi dikaji ulang penelitian itu. Kraton Jogja sendiri marah atas penelitian 'ngawur' itu!
Sekali lagi soal tradisi, adat atau budaya yang dilecehkan tentu akan mengundang reaksi pemilik aslinya. Dan hukum adat tentu sangat beragam caranya.
Sindrom transisi masyarakat (dari agraris ke industrial, tradisional ke modern)?
Kalau melihat di lingkup yang berbeda, di bidang organisasi (dipelajari misalnya dalam bidang akademik yang berhubungan dengan organisasi masyarakat atau bahkan bidang akademis terkait perusahaan) ada persoalan benturan-benturan budaya yang diteliti.
Manajemen perusahaan seringkali harus memasukkan faktor budaya (adat istiadat) ketika organisasinya bergerak dalam satu masyarakat tertentu yang punya adat khas tertentu pula.
Konsep-konsep rasional, ekonomi, sering harus "kalah" ketika benturan dengan adat itu terjadi.
Saya ingat kasus penggunaan jilbab di kalangan pegawai rumah sakit misalnya. Pernah jadi masalah, karena perusahaan tidak mempertimbangkan aspek jilbab itu dalam pendekatan budaya.
Nah, kalau dalam dunia akademis itu sendiri, gimana kira-kira persoalan budaya (adat) dan penelitian bisa diharmonisasikan? Penelitian akademis seringkali (atau bahkan selalu) dilakukan dalam kerangka "untuk kepentingan ilmiah". Ketika penelitian itu punya obyek yang berkaitan dengan aspek adat (dan berpotensi melecehkan adat) lalu kumaha?
Kalau hasilnya di keep, kok ya menyalahi semangat dari "keilmuan" itu sendiri.
Ada pandangan?
Bapak-bapak dosen di sini mungkin?
Dari judul mencabut... bisa dengan pernyataan dari peneliti, "bahwa penelitian itu salah".
Memusnahkan bisa dengan dibakar, tapi informasi yang telah tersebar secara digital di mana-2 tidak akan bisa.
If some of the Dayak (or Sundanese, Javanese, Balinese, etc) practice free sex, does it necessarily means that their culture formally encourage free sex?
if you're looking for the guilty ... you will only need to look into the mirror
Coulrophobia: Ooh, ini spidolhitam ganti nama toh? Kenapa jadi nyerang pribadi boss? Stay focus on the topic, ok?
IMHO, toh universitas bersangkutan pasti sudah punya copy-nya. Dan tidak ada hak masyarakat adat manapun meminta pemusnahan itu. Saya pikir Tamrin juga tidak 'sebodoh' itu. Dia cuma ingin masalah ini cepat selesai...
Selain itu, yang menarik doi juga mencabut keterangan ahli dalam kasus Ariel, yang artinya tidak ada masyarakat adat (dayak, Bali dan Papua) yang menganggap video Ariel itu BIASA, karena saya pribadi menganggap video itu LUAR BIASA. menurut om Maximillian: gimenong?
*sambil ngecek folder video di ponsel*
#yah ketahuan kolektor
Silahkan login untuk memberikan pendapat