Tedjo Soemarto 19
Rabu, 1 Jun '11 13:59, dibaca 805 kali
SaudarakuTM, di tengah peringatan Hari lahir Pancasila hari ini, menyebut nama itu setidaknya akan mentaut-pautkan imajinasi kita pada tiga hal. Pertama, siaran radio. Kedua, tentang Pancasila. Ketiga, kejayaan Orde Baru. Dialah satu-satunya pemilik suara (vioce) yang memiliki otoritas penuh untuk menjejal di semua frekuensi radio siaran negeri ini, setiap Minggu pagi, dalam kurun waktu 18 tahun (1981-2000).
Gaya bicaranya khas, meski terasa monoton dan membosankan. Cengkok modulasinya sangat Jawa, dan konten siarannya juga sangat indoktrinatif. Acara yang dipandunya, Forum Negara Pancasila, menjelajah (dan menjajah) setiap sudut di seluruh pelosok negeri, setiap Minggu pagi.
Suatu kali ia berbicara tentang kemakmuran, cita-cita luhur bangsa, atau pun pentingnya nasionalisme dan ketahanan nasional. Suatu saat pula - sambil mencuci sepeda motor - saya mendengar dengan jelas wejangan beliau tentang arti penting persatuan dan kesatuan bangsa.
"Ayo dengarkan, itu penting untuk menambah wawasanmu, dan berguna untuk pelajaran PMP di sekolahmu" kata ayahku seraya menyodorkan radio transistor dua band itu ke dekat telinga saya. Sementara saya sendiri tak begitu mengacuhkan acara yang sungguh jauh dari estetika seni bersiaran, minim dramaturgi, dan kalimat-kalimat yang meluncur terasa begitu datar.
Meski begitu, sebagaimana lazimnya sebuah kebencian, semakin dibenci ia justru menusuk semakin dalam ke lubuk hati. Semakin saya mengacuhkan dan semakin saya membekap telinga, rasanya suara Pak Tedjo justru semakin keras bergema. Itulah sebabnya, kebencian itu justru terasa sebagai jejalan yang tak mampu dihindarkan. Kata demi kata meluncur dengan datar, sedatar kalimat pembuka siaran yang monoton selama belasan tahun itu.
"Siaran seperti ini hanya cocok dipancarkan di surga" ejek temanku, seorang aktivis mahasiswa. Apa yang disampaikannya terasa begitu normatif, dan saking normatifnya, seakan-akan di negeri ini tak ada lagi hal-hal yang tidak ideal. Dalam bahasa mahasiswa Fakultas Ekonomi, kondisi ceteris paribus tengah berlaku, meski sejatinya kondisi itu hanya terjadi di surga. Absurd.
Beruntunglah saya, di pertengahan dasawarsa 1980-an saya berkesempatan bertemu dengannya di Bulaksumur. Kapasitas beliau saat itu adalah sebagai narasumber dari BP7 Pusat, Manggala Tingkat Nasional (sebuah predikat yang begitu gagah dan mrebawani) yang tengah diutus untuk memberi wejangan kepada mahasiswa baru UGM, yang akan menjalani Penataran P4 Pola Pendukung 100 jam. Coba bayangkan: 100 jam !!!!
Sebagaimana yang saya dengarkan di radio, beliau pun berbicara dengan ekspresi yang sama. Terasa sangat tekstual. Dan ketika para mahasiswa baru ini melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang nakal menggelitik pun, beliau menjawabnya dengan tekstual dan - tentu saja - minim ekspresi, dengan gestur sekaku baju safari yang dikenakannya.
Pengalaman lain yang menautkan saya dengan sosok ini adalah pada tahun awal tahun 1989. Saat itu, selain menyandang predikat mahasiswa, saya juga berprofesi sebagai penyiar radio swasta di Yogyakarta. Di hari Minggu pagi itu, spontanitas reflek jari saya menutup kanal relay RRI di mixer console seusai Warta Berita pagi, ternyata berbuntut panjang.
Saya lupa bahwa seusai warta berita pukul 06:00 saat itu, kewajiban relay masih dilanjutkan lagi dengan siaran Forum Negara Pancasila selama 15 menit. Tak berapa lama, berderinglah telepon (yang mengaku dari aparat) bertubi-tubi, memaki-maki, yang mengintimidasi penyiar dan kru yang bertugas pagi itu. Manajemen radio pun segera memutuskan untuk memberi sanksi kepada saya, di-grounded untuk tidak siaran selama beberapa hari. Sungguh pengalaman yang mencekam.
Seketika itu juga bayangan sosok Pak Tedjo Soemarto yang saya saksikan di awal masa kemahasiswaan saya segera berkelebat. Terbayang raut wajah dingin yang diramah-ramahkan, atau terbayang kalimat-kalimatnya yang sangat lurus, ideal, meski terasa sering utopis dan repetitif.
Dan jika beberapa tahun setelah pertemuan itu saya merasakan cengkeraman dan intimidasi itu dalam bentuk yang lebih riil, itu semata-mata justru memberi pelajaran bagi saya atas betapa kuat dan "hebat"-nya rezim penguasa pada waktu itu. Proses penyeragaman dan pencucian otak untuk sebuah ideologi dilakukan secara massif dan protektif, yang menutup segala bentuk alternatif pemikiran, dan berujung pada keseragaman atas pemahaman Pancasila yang tunggal.
Tumbangnya Orde Baru pada 1998, diiringi dengan lenyapnya suara Pak Tedjo Soemarto dari langit pancaran radio Indonesia. Minggu pagi tak lagi didominasi oleh suara pria ber-cengkok Jawa nan kental itu. Minggu pagi menjadi hingar, terlebih kini.
Jika pun kini sampean menyaksikan apresiasi negara yang begitu rendah terhadap ideologi dasarnya, atau pada minimnya pemahaman akan arti penting falsafat dasar yang dirumuskan para pendiri bangsa ini, itu semua tak lepas dari serangkaian proses yang kebablasan.
Jika zaman Orde Baru diibaratkan mobil dengan rem dan kendali yang teramat pakem hingga macet tak menggelinding, maka kini, Orde Reformasi telah berhasil membongkar kemacetan itu. Hanya sayangnya, kita semua tenggelam dalam eforia kebebasan, hingga lupa memasang kembali rem yang telanjur dibongkar itu. Sayang sekali. ***
Yogyakarta, 1 Juni 2011.
Gambar appear courtesy: http://indonesia-raya.tumblr.com/search/Pancasila
Tag: Pancasila, tedjo soemarto
Terkait:
-
Kembalikan makna Pancasila
Jumat, 16 Des '11 08:25 -
Renungan Hari Kesaktian Pancasila ==>Siapakah Sebenarnya yang Berkhianat ?
Minggu, 2 Okt '11 07:02 -
Indonesia Nggak Perlu Jujur
Jumat, 17 Jun '11 14:21
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Nazil: Keren
-
The Crow: Menarik
-
Bee: Menarik
-
yusro: Menarik
-
krisnov: Bagus
-
Last Man Standing: Menarik
-
Whispering Wind: Menarik
-
Modred: Menarik
-
Moonlight: Menarik
-
Anak Korban Drone Obama: Menarik
-
Harlan Eryandi: Menarik

Komentar:
Lha siaran pak tedjo itu adalah siaran yang wajib kami dengarkan dan kami hapalkan !
Tapi saya tidak berhasil mendapatkan piagam penataran p-4 pola 100 jam, jadi harus ambil mata kuliah pancasila
Kesimpulanku ketika berdebat dengan tokoh tokoh Pancasilais itu, mereka tidak legowo menerima perbedaan pendapat tentang Pancasila.
simpati aja sih sama kau kemaren, kau kan kayaknya tak pernah pakai bahasa kalimantan atau madura, kasihan aja kalau gak bisa nangkep bahasa jawa, kalau ada warga lain yang bingung tapi dianya suka pakai bahasa aliennya sendiri (batak ato sunda misal) dan gak paham bahasa jawa, aku sih cuek aja...
Last Man Standing: Bukan cuma 36 butir lha alenia di gbhn saja diapalin sampe titik koma pas dulu ikutan lomba p-4. Dan lucunya, kok ya hapal.
Sejak SMA aja aku mulai merasa oon.
*narsis*mode*on
Silahkan login untuk memberikan pendapat