Kala Polisi Jadi Pencabut Nyawa 15
Minggu, 8 Jan '12 12:17, dibaca 627 kali
Polisi, sebagai penegak hukum yang juga bertugas menjaga keamanan mendapat kepercayaan membawa senjata api saat bertugas. Terutama tim buru sergap atau anti huru-hara.
Tapi, dalam menggunakan senjatanya tentu polisi memiliki standar operasi tersendiri. Misalnya saja memberi tembakan peringatan atau mengarahkan pistol ke kaki pelaku. Namun tidak jarang juga polisi yang mengarahkan tembakan ke titik vital pelaku. Akhirnya, sasaran meregang nyawa.
Ketika Buser Menembak Tewas Pelaku Kriminal
Tersangka pencuri sepeda motor, Royadi (23) dan rekannya, tewas ditembak petugas buru sergap Kepolisian Sektor Metropolitan Ciracas, Brigadir Kepala Jon dan Ajun Inspektur Satu Suw, di Jalan Rawa Babon RT 7 RW 4 Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur, Sabtu (7/1) sekitar pukul 04.00 WIB.Royadi yang warga Jatisampurna, Kota Bekasi, dan rekannya yang berkulit putih dan tinggi tubuh 165 sentimeter itu tewas dengan dua luka tembak di punggung masing-masing.
Hingga kemarin, jenazah masih berada di Rumah Sakit Polri Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur. Keluarga Royadi telah dicari tetapi belum datang, sedangkan identitas rekan Royadi belum diketahui.
Keterangan Kepala Seksi Humas Kepolisian Resor Metropolitan Jakarta Timur Komisaris Didik Hariyadi, kedua tersangka itu ditembak karena melarikan diri dan mengabaikan tembakan peringatan. Kendatipun, kedua pelaku tidak bersenjata, hanya membawa 5 pasang kunci T, 2 gagang kunci T, 3 duplikat kunci, dan 1 kunci segi delapan untuk mencuri sepeda motor.
Polsek Metropolitan Ciracas memang menugaskan tim buru sergap berpatroli di daerah itu karena hampir setiap hari ada sepeda motor dicuri.
Sabtu pagi itu, Jon dan Suw sedang berpatroli dengan sepeda motor.
Melihat Royadi yang mengutak-atik motor dan kemudian membawa sepeda motor itu, Jon dan Suw langsung mendekati pelaku. Keduanya lalu kabur. Keterangan resmi polisi, petugas sudah menembak ke udara tiga kali sebagai peringatan, tapi diabaikan. Karena itu, mereka ditembak dua kali, mengenai punggung dan tewas.
Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane menilai tindakan petugas sudah tepat. "Petugas jangan ragu bertindak tegas untuk membuat efek jera. Namun, jangan sampai rakyat yang tidak bersalah seperti kasus kekerasan di Bima (Nusa Tenggara Barat) jadi korban," ujarnya.
Muncul pertanyaan, mengapa tembakan tidak diarahkan ke kaki korban? Mengapa peluru harus ditembakkan dua kali di punggung masing-masing sehingga korban tewas?
Keterangan Didik, kedua tim buser itu memang tetap akan diperiksa. "Untuk didalami apakah penembakan (mematikan) itu sesuai atau menyalahi prosedur," kata Didik.
Sungguh tidak ringan tugas seorang buru sergap. Dalam waktu sangat singkat harus memutuskan, apakah harus melumpuhkan atau menembak tewas pelaku kriminal. Kecermatan, kecepatan, dan ketegasan tentunya yang kita harapkan, bukan yang asal tembak. Inilah yang bisa membuat polisi menjadi sangat dikagumi dan sangat-sangat terhormat.
(Ambrosius Harto Manumoyoso)
Apapun alasannya, pencurian tidaklah seimbang bila mendapat "hukuman" berupa kematian. Seharus polisi bisa lebih bijak melepas tembakan, toh lawannya tidak membawa senjata.
Kalau seperti ini, polisi tidak beda perannya dengan algojo atau pencabut nyawa.
Gambar dari sini, berita dari situ.
Tag: polisi, pencuri, tembakan, pistol, pencabut nyawa
Terkait:
-
Lawan Penegak Hukum adalah Rakyat Kecil
Sabtu, 7 Jan '12 11:01 -
KERINGAT DINGIN UNTUK PAK POLISI
Selasa, 1 Mei '12 12:38 -
Kartu Inafis: Polisi tidak mau kehilangan lapak
Jumat, 20 Apr '12 15:49
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Juffrouw Nurma: Penting
-
Maximillian: Menarik
-
boiga: Menarik
-
yusro: Menarik
-
wong-b-jad: Bagus
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
Black Horse: Bagus
-
mbah joebir: Penting

Komentar:
Saya dapet cerita senada dari teman, waktu dia sedang menemui anak2 korban kerusuhan Ambon beberapa waktu lalu.
Saat ditanya apa cita-citanya, si anak kecil itu menjawab "jadi polisi/tentara"
kenapa?
"biar bisa/boleh nembak orang"
saya lupa redaksinya gimana, tapi kurang lebih seperti itulah
Hey, that was my opinion too
I wanted to become soldier when I was child, or Batman
di banyak tempat, justru masyarakat berharap bisa menangkap sendiri maling2 itu. saking muaknya karena terlalu seringnya kasus ini berulang. tangan mereka gatal.
jadi, sepertinya ada dua pilihan: didor polisi atau dimakan banyak orang. masalah mati itu biasanya jadi urusan belakang.
gue setuju kalo botaksakti: dan boiga: jadi kapolri dan wakapolri
Seriously.
beneran, kata polisi itu biar kapok
kalau ketangkep lagi didor dengkulnya, dibiarin busuk bentar, biar diamputasi
mendekati potong tangan potong kaki
Asal jangan anak-anak pencuri sandal yang dihajar, atau rakyat yang sedang memperjuangkan haknya di dor...dor....
- Ketangkap sekali, disel sekian hari dengan bonus bogem sana-sini.
- Ketangkep kedua kali, diurus pengadilan, dipenjara sekian bulan.
- Ketangkep ketiga kali, diurus pengadilan, dipenjara sekian tahun.
Setelah itu, tinggal tunggu aksi keempat kalinya, langsung dor di tempat. Prinsipnya: penyakit masyarakat harus diberantas.
SEHINGGA MEGAP2 SEPERTI ORANG TENGGELAM. Tinggal targetnya mati lemas atau setengah mati.........bekas penganiayaan tidak ada... visum diatur sebagai "bunuh diri" gampang ya ?
Bukankah NKRI negara hukum? Bukankah hukuman penjara atau hukuman mati dilaksanakan untuk maksud tertentu agar pelaku sadar atau orang lain terlindungi?
Kalau polisi bertindak di luar koridor hukum (UU)... maka kejahatan akan semakin meningkat dan polisi akan menciptakan dendam yg berujung pada pembunuhan polisi juga ahirnya.
ya gak ada peristiwa penembakan...
salah siapa?
Silahkan login untuk memberikan pendapat