Hilangnya "Ruh Ilahi" Ke-Islaman 54
Sabtu, 14 Jan '12 11:31, dibaca 555 kali
Oleh: Hartoyo*
Umumnya, pendekatan justifikasi agama sering dilakukan sebagian masyarakat dan pemerintah saat mengomentari berita yang berkaitan dengan isu-isu sosial, seperti kematian desainer muda Adesagi Kierana, berita waria, gay atau pekerja sex. Pandangan semacam itu mengemuka di media online, grup, dan Facebook.
Cara berpikir yang "sehat" tidak digunakan secara maksimal dalam melihat persoalan itu. Segala ayat, tafsir sampai tidak menggunakan dasar apapun digunakan untuk menghakimi tertuduh atau korban. Korban dianggap berdosa, sehingga layak mendapat hukuman.
Berikut ini beberapa komentar yang berhasil saya rekam di media online, Kompas dan Facebook,
Mati aja lo HOMO!! LAKNAT!! BEGINILAH AZAB TUHAN!! ORANG MAHO (manusia homo) MATI MENGENASKAN !! ahahahahaha. (komentar pembaca tentang kematian Adesagi Kierana di www.vivanews.com)
Saya setuju kalau Anda mengatakan setiap orang punya nilai masing-masing, tapi semua ada batasannya. Indonesia negara demokrasi berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, jadi semuanya diatur sesuai kitab yang dipegang oleh masing-masing agama. Kita boleh menganut agama apapun, tapi ada aturannya.(komentar anggota di groups Facebook PernasAIDS tentang homoseksual)
Konser anak punk menyimpang dari ajaran syariat Islam, komunitas anak punk tidak bisa dibiarkan berkembang di bumi Aceh. (komentar Wakil Walikota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddun tentang anak Punk di Harian Kompas, 4/1/2012)
Kalau saya amati komentar-komentar di atas tanpa perlu mencari tahu latar belakang pemberi komentar, sudah dapat dipastikan ia seorang muslim. Pasti muslim!
Sebagai muslim, saya bertanya-tanya mengapa yang melakukan hujatan, sikap mengkafirkan orang lain, merasa diri paling suci adalah orang yang selalu "mengaku" beragama Islam? Apakah Islam mengajarkan cara beragama seperti itu?
Saya terus merefleksikan diri selama lebih kurang 35 tahun, hidup sebagai seorang muslim. Dari mulai menempuh pendidikan di sekolah, masyarakat, keluarga, saya juga pernah mendapatkan pendidikan agama yang mengajarkan untuk tidak toleran pada yang berbeda. Menganggap orang lain (baca: non muslim, terutama Kristiani dan Yahudi) sebagai musuh yang harus diperangi, menganggap homoseksual dan pekerja seks sebagai orang-orang yang akan dilaknat dan dibakar api neraka.
Perjalanan saya bekerja di gerakan sosial mengharuskan bertemu banyak orang. Termasuk bertemu dengan ulama-ulama Islam dan membaca pemikiran-pemikiran Islam yang "lain". Pertemuan itu pertama kali (Januari 2002) membuat saya mendapatkan pencerahan baru tentang pemahaman ke-Islaman yang lebih toleran yang mengedepankan cinta kasih. Artinya toleransi pada yang berbeda tidak sedikitpun akan mengurangi ke-Islaman saya, justru semakin meyakinkan pada nilai-nilai Islam itu sendiri.
Sekarang ini ada banyak tokoh-tokoh Islam yang berpikir terbuka dan mengkampanyekan anti kekerasan dan demokrasi. Semisal, Prof. Siti Musda Mulia, Prof. Dawam Rahardjo, Kyai Husein Muhammad, Almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Mohamad Guntur Romli, Ahmad Syafii Maarif, Almarhum Nurcholis Madjid, Ulil Abshar Abdallah, Akhmad Sahal dan masih banyak cendikiawan lainnya berpikiran terbuka. Para cendekiawan itu tentu tidak perlu diragukan lagi kemampuan pemahaman ke-Islamannya.
Mereka menggunakan tafsir Alkitab dan Hadist dengan mengkaitkan keilmuan lainnya, antara lain ilmu psikologi, sosiologi, antropologi, politik, sosial, ekonomi dengan dasar kemanusiaan. Tentu pandangan para cendekiawan itu bukan kebenaran absolut. Masih sangat terbuka ruang kritik terhadap mereka.
Perbedaan pandangan yang ulama itu yakini menjadi salah satu dasar memahami teks Alkitab. Tapi poinnya para cendekiawan muslim mesti lebih terbuka berpikir dan tidak menggunakan "kaca mata kuda" dalam melihat persoalan kemanusiaan. Ujungnya bukan dosa-neraka, tapi bagaimana menjawab persoalan sosial dalam kerangka hak asasi manusia. Sehingga, sampai pada keyakinan, tidak semua umat muslim setuju terhadap kekerasan dan intoleran kepada yang berbeda.
Ironisnya, mengapa kebanyakan yang memberikan komentar "miring" dengan menggunakan doktrin agama umumnya umat Islam? Mungkin karena umat muslim terbesar di Indonesia (sekitar 85 persen) sehingga akan lebih terasa dampaknya dibandingkan komentar umat agama lain. Namun, bukan berarti sikap-sikap intoleran dan pelaku kekerasan atau kebencian tidak ada di umat non muslim. Tentu ada.
Tetapi, saya sendiri berpikir mengapa ucapan dosa, kafir, murtad dan neraka seolah menjadi "ciri khas" umat Islam dengan menghakimi pihak yang berbeda dan yang terpinggirkan? Sangat menyedihkan sekali! Agama Islam seperti kehilangan "ruh ilahi"-Nya. Ajaran Islam yang seharusnya hadir menebarkan cinta kasih, perdamaian justru berwajah "garang", meyeramkan, penuh kebencian dan bersimbah darah. Jika terus dibiarkan pemahaman ini, akan membawa Islam dalam tampilan sebagai agama yang mengajarkan kekerasan dan intoleran pada mereka yang berbeda.
Tengtu saya sebagai umat muslim merasa malu, sedih, dan bingung, sekaligus mempunyai tanggung jawab moral untuk memberikan informasi atau memberikan contoh bahwa Islam tidak seperti itu. Islam agama yang toleran, mencintai perbedaan, dan melindungi mereka yang terpinggirkan. Dalam Islam ada satu ayat Alquran berbunyi: "Ma maa arsalnaaka illaa rahmatan lil-‘aalamiin (Dan tiadalah Allah SWT mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam)." (QS al-Anbiya' 21 : 107).
Ironisnya, umat Islam yang terus menebarkan toleransi dan penuh cinta kasih mendapatkan tantangan keras dari umat Islam sendiri dan pemerintah. Pandangan itu dicap sebagai orang-orang sesat dan murtad, menjadi "makanan" sehari-hari yang harus diterima sebagai konsekuensi. Bahkan, tidak jarang ancaman dan pemukulan diterima oleh para umat muslim yang berpikir terbuka.
Kembali ke persoalan di atas, intoleransi sebagian umat di Indonesia yang penduduknya beragam dapat menimbulkan masalah dalam kehidupan bernegara. Sekat-sekat mayoritas-minoritas akan semakin mengental yang akhirnya digunakan penguasa untuk melanggengkan kekuasaan politiknya. Inilah yang banyak terjadi ketika pemilihan kepala daerah. Agama menjadi "jualan" politik untuk mendapatkan kekuasaan.
Sehingga, akan sangat sulit seorang Presiden atau kepala daerah di Indonesia berasal dari non muslim. Kecuali di beberapa daerah seperti Sumatera Utara, Manado, dan Papua. Rakyat Indonesia sepertinya lebih memilih presiden seorang koruptor dan heteroseksual daripada seorang non muslim atau homoseksual yang bekerja untuk kemanusiaan.
Situasi di atas kalau terus dibiarkan bukan hanya Islam sebagai agama yang akan ditinggalkan oleh manusia, tetapi juga kebangsaan kita (Indonesia) akan rawan terhadap konflik dan kehancuran karena pandangan tersebut. Dalam jangka panjang, Islam sebagai agama dan Indonesia sebagai bangsa akan menjadi taruhannya. Tentu saja, saya sebagai muslim, sebagai anak Indonesia sekaligus sebagai seorang gay tidak menginginkan hal itu terjadi.
Saya tetap bermimpi, Islam sebagai agamaku, Indonesia sebagai negeriku, dan homoseksual sebagai orientasi seksualku akan tetap ada menjadi satu kesatuan. Hidup berdampingan, penuh warna dan keharmonisan, layaknya pelangi di balik awan.
*Sekretaris Umum Ourvoice
Tag: Pluralisme, Homoseksual, Hartoyo, ourvoice
Terkait:
-
Islam Humanis Melalui Film Ummi Aminah*
Selasa, 17 Jan '12 01:07 -
Kelamin Dan Hak Atas Tubuh
Kamis, 8 Des '11 00:53 -
Mahasiswa Teologi Berjuang Untuk Homoseksual
Sabtu, 26 Nov '11 15:13

Komentar:
--
Iya.. Islam mengajarkan seperti itu. Mangkanya belajar agama yg bener, biar tau!! :'(
Islam mengajarkaan kalo benar itu benar, salah itu salah!! Gak boleh ditutup2i atasnama apapun..
Penulis: [Saya terus merefleksikan diri selama lebih kurang 35 tahun, hidup sebagai seorang muslim. Dari mulai menempuh pendidikan di sekolah, masyarakat, keluarga, saya juga pernah mendapatkan pendidikan agama.... ]
---
Ujung-ujungnya jadi MAHO... rugi umur 35 tahun merefleksi diri kalo akhirnya jadi MONYONG
---
hahahahaha...
teruslah bermimpi sobat, bermimpi di bawah payung selangkangan... jajajajajaj....
Homosexual act, on the other hand, is a sin according to Islam. If you claim to be a Muslim, you also have to accept this dogma. Don't try to modify it.
Be gay if you want, that's your right. Do homosexual act with other gays if you want, that's also your right. Be a Muslim and a practicing homosexual at the same time if you want, that's also your right; after all, there are a lot of people claiming to be Muslims out there who commit other sins out there. Just don't try to say that Islam doesn't consider homosexual act a sin.
Be a Muslim, be a gay, and accept that Islam considers it a sin. That's your right and duty. Period.
namun
ruh kesejatian anda, sudah dipastikan NOL BESAR!
Hartoyo: sendiri sebenarnya mewakili kelompok Islam tertentu sbg seorang gay. Pandangannya jelas ... menjadi muslim sekaligus menjadi gay. Tapi Hartoyo: bersikeras ingin Islam mentoleransi homoseksualitasnya... padahal itu absurd menurut ketentuan syar'i (aturan Islam). Mungkin bisa disamakan dengan mengharapkan agar Islam mentoleransi perzinahan ketimbang menghukum berat pelakunya.
[Rakyat Indonesia sepertinya lebih memilih presiden seorang koruptor dan heteroseksual daripada seorang non muslim atau homoseksual yang bekerja untuk kemanusiaan.]
Lho..., kok rakyat Indonesia yg disalahkan. Rakyat Indonesia yg mana? Yang 60 juta orang melarat yg dipermiskin terus itu? Atau menurut anda solusinya adalah pilihlah presiden muslim yang homoseksual....
Mungkin Hartoyo: perlu berefleksi lagi tentang Islam, menjadi muslim dan gay di Indonesia.
*kalau perlu riyadah sekalian....
Hebat kalau bisa melakukan mujahadah sekaligus. Kalau gak bisa, ya... sedapat mungkin menghindari yang haram-haram sudah lumayan sebagai muslim.
Tapi saya punya hak untuk mengatakan homoseksual bukan dosa.
Jangan merasa diri paling benar dalam memahami Islam. Kalau anda bilang homoseksual berdosa, boleh dong saya katakan heteroseksual juga berdosa?
Kita bukan Tuhan, jangan suka mendosakan orang lain, karena kita belum tentu lebih baik dari orang lain yang kita anggap pendosa.
Yang mendosakan bukan manusia, tapi Tuhan. Kecuali manusia2 di web ini sudah menggantikan Tuhan.
It's that simple.
Erm, do you really forget your password?
*siapin vacuum cleaner lagi*
Halah, yang 'Path of the Assassin' sajo belom kelar baca dan 'Habibi' belom kepegang...
-
makanya banyak baca yang bener. jelas2 di banyak dalil disebut; "ini dosanya begini", "itu dosanya begitu", "yg ini berdosa", "yg itu tidak berdosa".
di banyak ayat & hadits banyak penjabaran seperti itu. jadi, dari perantaraan teks2 itu pun Tuhan menginformasikan mana yang mengakibatkan dosa dan mana yang tidak..
baca om.. banyak baca..
atau kalo terlalu malas, tanya yang jelas dan tegas pada kawan2 ustadz/kyai anda. gak perlu bertele2 pertanyaannya. cukup ini saja:
HALALKAH HOMOSEKSUAL / SEKS SEJENIS DALAM ISLAM?
Dikau yang logis, dong! Kalo ga banyak baca, ga mungkin makhluk itu bisa bikin artikel segitu panjang, lengkap dengan segala pelintiran dan improvisasinya.
Cuma kalo bacaannya dipilih yang sealiran pikiran doang, apa boleh buat...
that's why i add "/ seks sejenis".
Diantara kelakar Gus Dur yang dikenang oleh Mahfud Md; soal perdebatan antara Islam dan Yahudi soal siapa yang disembelih Ibrahim yang kemudian diganti oleh Tuhan dengan seekor domba? Dalam keyakinan agama Islam, yang dikurbankan adalah Ismail, anak dari istri kedua, Hajar. Namun bagi keyakinan orang Jahudi, yang dikurbankan adalah Ishaq, anak Ibrahim dari Sarah. Perbedaan pandangan dalam beragama ditanggapi Gus Dur dengan enteng " Enggah usah diributin, wong dua-duanya enggak jadi disembelih".
Belum lagi soal perbedaan pandangan antara Yesus dan Nabi Isa dalam doktrin Kristen dan Islam. Kalau sudah begitu, terus siapa yang merasa paling benar?
Itu contoh bukan cuma di antar agama, di dalam agama saja sendiri banyak aliran dan pandangan perbedaan.
Misalnya dalam Islam, soal Jilbab saja sudah banyak perdebatan. Apa yang dimaksud dengan Jilbab? apakah itu wajib sebagai bagian aurat perempuan atau hanya sebagai bagian dari budaya Arab?
Kalau misalnya sebuah kewajiban, yang dimaksud jilbab itu seperti apa? Kenapa realitanya berbeda2? Ada yang bercadar, ada yang panjang jilbab tapi tidak bercadar tapi ada juga yang jilbab tdk terlalu besar. Kalau sudah begini, ayo mana yang paling benar soal jilbab itu?
Ingat, agama tdk pernah lepas dari pemahaman manusia.
Wong fatwa MUI saja, bukan sebuah kewajiban untuk diikuti. Ulama boleh memberikan fatwa halal-haram berdasarkan kesepakatan mereka. Tapi umat tidak punya kewajiban apalagi dicap sebagai dosa ketika tidak mengikuti atau berbeda pandangan terhadap fatwa ulama tersebut.
Itulah indahnya perbedaan dalam pandangan agama, semua orang boleh punya pandangan berbeda. Dan semua juga punya kepentingan masing2 dari keilmuannya.
Anda boleh punya pemahaman bahwa homoseksual dosa, silakan itu hak anda. Tapi saya juga berhak punya pandangan lain soal homoseksual dalam Islam.
Jangan pernah merasa punya hak untuk menghakimi pandangan yang berbeda. Soal siapa yang benar, kita lihat saja nanti di akhirat.
Kita sama2 muslim, berdasarkan Al quran dan Hadist, percaya akan Rasullah dan Allah SWT sebagai Tuhan. Jangan pernah merasa diri paling benar dan suci dari saya. Ingat itu, sekali lagi anda bukan Tuhan. Anda semua adalah manusia yg kotor sama seperti saya. Jadi jangan merasa diri paling punya otoritas kebenaran atas manusia lainnya. Camkan itu!!!
I've told you, stick to human rights. That's probably the most honest suggestion you'll ever get anywhere.
Coba cek apakah hubungan pernikahan poligami bisa mengandung keadilan, kesetaraan, perdamaian dan tidak ada kekerasan? Lihat faktanya yang ada. Ribuan perempuan jadi korban kekerasan karena praktek poligami.
Termasuk juga hubungan relasi seksual antara orang dewasa dengan anak-anak (paedofil).
Hubungan homoseksual yang saya perjuangkan adalah hubungan sex antara dua manusia dewasa, saling mencintai, tanpa paksaan, tanpa kekerasan, penuh dengan keadilan dan kesetaraan satu sama lain. Bukan hubungan esksploitasi yang dipertontonkan dalam praktek poligami dan paedofil heteroseksual. Perjuangan kami jauh dari praktek itu semua.
Jadi mestinya yang harus kita pikirkan dan kuatirkan praktek2 poligami dan paedofil yang dijustifikasi atas nama agama, sampai sekarang masih terus berlangsung.
Saya aneh saja, hubungan poligami dan paedofil yang jelas2 tidak setara kok bisanya dianggap "sah" atau halal menurut sebagian umat muslim. Saya sebagai muslim geleng2 kepala saja.
Homoseksual yang saya perjuangkan jauh dari segala hal yang berkaitan dengan ketidakadilan,diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan.
Semoga bisa direnungkan bersama.
Beragama adalah hak asasi manusia, termasuk hak untuk memberikan pandangan tafsir terhadap agama yang saya yakini.
Saya tidak pernah memaksa orang untuk percaya terhadap pandangan saya. Karena setiap orang punya nilai2 masing2. Tapi tdk ada satu orangpun berhak merasa diri paling benar sehingga menganggap pemahaman orang lain salah atau sesat. Itu konteksnya.
Kalau soal perbedaan dan penolakan biasa saja, itu bagian dari pendidikan kok. Dulu saja Nabi Muhammad ketika awal2 meyebarkan Islam juga mendapatkan tantangan dari manusia lainnya. Bahkan mau dibunuh.
Anggap saja saya sedang mengikuti apa yang pernah Rasullah SAW lakukan, memberikan informasi tentang cinta, kasih dan perdamaian kepada semua orang. Mau setuju atau tdk, ya silakan pada masing2 orang.
-
oh.. cinta, kasih dan perdamaian? saya dukung seratus persen, kalo gitu.. monggo, silakan
kalo masalah seks sejenis, lain soal lagi jawabannya.
Alasannya, karena saya dan anda sama2 manusia,warga negara, yang sama2 juga bayar pajak. Saya dan anda sama dihadapan hukum. Termasuk sama mendapatkan perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia yang harus disediakan oleh pemerintah.
Itulah titik poin perjuangan saya sebagai seorang gay.
Kalau soal agama, kita urus masing2, lagian ngapain juga sih urus2 dosa2 org lain, wong kita juga belum tentu masuk surga apa neraka. Gitu aja kok repot, kata Gus Dur.
sebetulnya kalo didasarkan pada pandangan agama, simpel saja sih logikanya:
A : yang ini berdosa dan dilarang!
B : apa dasarnya?
A : ada dalilnya, ayat ini dan hadits itu.
B : oke
B : yang ini tidak berdosa
A : apa dasarnya?
B : hak
A : hak apa?
B : hak saya berpendapat bahwa itu tidak demikian
A :
meh.. saya jadi banyak omong!
[karena saya dan anda sama2 manusia,warga negara, yang sama2 juga bayar pajak. Saya dan anda sama dihadapan hukum. Termasuk sama mendapatkan perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia yang harus disediakan oleh pemerintah.]
-
naaah.. kalo dari sudut pandang ini saya bisa gak ikutan. itu hak anda, ini hak saya. beda pendapat pun saya gak akan ngotot
kalo dari sisi agama kan jelas. "saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran". jadi, harus bersuara
Kalau sama spesies, tapi kelaminnya sama, nah itu susah juga berketurunan
#apasih
If I want to make any excuse, I'll use something else outside religious dogma: it was either he died or I did. I chose him. I have the right to live as well as he did. It's just that I was better at defending my right than he was.
How about that to end this discussion?
let me answer in 'not-english' for this is hard for me
ada alasan mengapa Ar Rahman dan Ar Rahim menjadi dua nama yang paling banyak disebut dan dibanggakanNya. Ada alasan mengapa ia menyandang nama Al Ghaffar (Pengampun). dan ada alasan mengapa Ia mengucap "KasihKu mendahului murkaKu".
[to end this discussion]
-
yang harus disampaikan sudah disampaikan setuju, sudah cukup
Justru yang lagi2 saya prihatin dengan praktek2 kekerasan dalam rumah yang terjadi dalam pasangan heteroseksual dalam rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga kian tahun terus meningkat. Apakah artinya bahwa hubungan heteroseksual sama dengan pelaku kekerasan (dalam hal ini laki2). Tentu tidakkan? Saya tentu tdk bisa katakan bahwa laki2 hetero sebagai pelaku kekerasan thp perempuan? Karena ini soal oknum bukan soal heteroseksualnya.
Begitu juga soal homoseksual, agak aneh saja. Masak tiba2 disamakan homoseksual dgan pembunuh,koruptor atau pencuri. Aneh bin ajaib saja.
cool o_O
Hanya saya berikan saja, urusan dosa itu meyangkut soal pandangan manusia. Ulama yang sering membuat atau mengeluarkan fatwa bahwa ini haram dan ini halal. Distulah peran manusia bermain.
Saya yakin, tidak ada persoalan dosa atau tdk dosa yg tdk lepas pandangan manusia. Karena agama dibuat oleh Tuhan untuk manusia.
Untuk urusan hukum potong tangan saja, ada ribuan pandangan yang berbeda. Dari mulai menolak sampai berbeda jenis2 dan model potong tangannya. Semua menggunakan justifikasi Islam, Alquran dan hadist.
Ini bukti tdk akan mungkin soal dosa dan tidak dosa yang lapas dari pandangan manusia. Sehingga saya berani katakan urusan dosa itu menjadi urusan bagaimana kita melihat itu.
Dan setiap manusia punya otoritas itu.
Islam bukan seperti ajaran Khatolik, yang aturannya harus mengikuti aturan Paus. Dalam Islam, beragama adalah urusan individu dgan Tuhannya, tanpa ada perantara siapapun.
Pandangan ulama boleh saja jadi referensi, tapi putusan akhir tetap ada pada diri masing2 orang.
Terima kalau sekedar mengingatkan kepada saya. Tapi saya juga sedang mengingatkan kepada teman2. Jadi kita saling mengingatkan, gpp kan?
salam
salam
Dalam satu keluarga saja, satu ibu dan satu bapak akan mengalami perbedaan pandangan. Itu wajar sekali dan sangat manusiawi.
Yang penting tetap bisa saling menghormati dan memberikan ruang pada pihak lain untuk berbicara dan mengungkapkan pendapatnya. Tanpa harus ada rasa takut, apalagi sampai mengancam ataupun melarang orang lain untuk bicara. Saya pikir anda juga tdk setuju dgn cara2 seperti itu.
http://us.detikne…-hiv?9922032
Tetapi.. bila istri telah suci dari haid silahkan menyetubuhinya pada bagian yang diperintahkan (yaitu vagina, bukan dubur lho).
Ini ayatnya:
وَيَسْئَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَآءَ فِي الْمَحِيضِ وَلاَتَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ {222} نِسَآؤُكُمْ حَرْثُ لَّكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ {223}
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran (najis).” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Qs. Al-Baqarah: 222-223)
*itu Allah SWT yang mengatakan.... bukan saya. "camkan itu!*
Tetang ngesex melalui dubur (liwat), ini hadisnya:
Imam Abu Dawud dan An-Nasaa’i meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkata:
مَلْعُوْنٌ مَنْ أَتَى امْرَأَةً فِيْ دُبُوْرِهَا
“Dilaknat, orang yang mendatangi perempuan pada duburnya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasaa’i); dan ini
Imam At-Turmudzi dan An-Nasaa’i meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى رَجُلٍ أَتَى رَجُلاً أَوْ امْرَأَةً فِيْ الدُبُرِ
“Allah tidak akan melihat orang laki-laki yang bersetubuh dengan sesama laki-laki atau orang laki-laki yang menyetubuhi perempuan di duburnya.” (Sanad kedua hadits tersebut shahih).
---------- dengan perempuan aja dilarang lho. Masak sih kalau sama laki2 malah jadi boleh atas nama cinta (???).... masak sih Toyo?
Ingat peringatan Allah SWT atas kaum Luth:
إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَاسَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya kalian melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh satu orangpun sebelum kalian di alam ini.” (Qs. Al-‘Ankabut: 28)
Maka Nabi Saw menegaskan berulangkali, katanya:
“Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat orang yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya sebanyak tiga kali.” (HR. Ahmad dengan sanad shahih)
Silahkan cari dalil (ayat dan hadis) lain yang membolehkan homoseks atas nama kesataraan dan cinta... *kalau ada*
*ctt: "semua hubungan antar manusia/sosial telah ada aturannya dalam fiqih (semua mazhab: sunni atau syiah)...... dan misi utama Nabi Saw adalah berkenaan dengan penyempurnaan akhlak manusia.... dan Agama sangat berkepentingan agar manusia selamat dunia akhirat dengan menjadi hamba Allah SWT... bukan hamba nafsu dan materi."
Salam
Cuma memang banyak sumber protein lain, selain sperma
Mungkin metode itu bisa dipakai para gay sbg alternatif aktivitas seksual tanpa menyalahi semangat fiqih islami
Ha ha ha . . . kalau soal itu bisa ditanyakan sama toyo kang
#numpangliwat
Silahkan login untuk memberikan pendapat