Wanita Bercadar Itu... 16

Jumat, 10 Feb '12 10:56, dibaca 781 kali

 
 

Di ruang sidang pengadilan Indonesia, terdakwa kerap hadir di hadapan hakim dengan baju putih dan celana hitam. Bagi mereka yang beragama Islam, penampilannya dilengkapi dengan kopiah atau songkok di kepalanya dan baju model koko, yang biasa digunakan waktu shalat.

Kalau saya melihat mereka, terkadang terbersit pertanyaan, untuk apa mereka menggunakan atribut itu? Apakah guna meyakinkan hakim kalau mereka sudah kapok atau taubat?

Entahlah apa alasannya. Hanya saja, mereka yang mengenakan pakaian beratribut agama itu hanya terdakwa lelaki saja. Sedangkan terdakwa perempuan biasanya berpakaian lebih simpel, hanya kemeja putih dan celana hitam tanpa atribut agama seperti kerudung.

Tapi kini "tren" berpakaian terdakwa perempuan telah bergeser. Bukan cuma kerudung yang mereka gunakan, tapi juga jilbab, bahkan gamis dan cadar. Contohnya saja terdakwa kasus penggelapan dana nasabah Citibank, Malinda Dee; tersangka kasus suap cek pelawat, Nunun Nurbaeti; dan saksi kasus korupsi Wisma Atlet, Yulianis serta Oktarina Fury.

Lagi-lagi pertanyaannya adalah mengapa mereka menutup aurat setelah tersandung masalah hukum? Bertaubat atau malu?

Misteri Cadar Yulianis di Persidangan Nazar

TEMPO.CO :- Sejak kapankah Yulianis dan Oktarina Fury bergamis dan bercadar? Demikian pertanyaan yang kerap terdengar setiap kali kedua perempuan mantan punggawa Grup Permai itu hadir bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.

Bekas anak buah terdakwa kasus suap Wisma Atlet Jakabaring, Muhammad Nazaruddin, itu tak sekali pun menampakkan parasnya di muka publik. Menurut kolega mereka di Grup Permai, Mindo Rosalina Manulang, Yulianis, dan Oktarina sebelumnya tak berjilbab, apalagi bercadar.

Hal ini rupanya membuat Nazar penasaran: benarkah perempuan yang sedang bersaksi itu Yulianis? Menurut Nazar, Yulianis yang ia kenal bukan seperti itu. Maka, ia pun ingin melihat wajah di balik cadar itu.

Sontak Yulianis menolak. "Tidak, saya tidak mau. Kalau Pak Nazar mau lihat, saya bersedia di ruangan tertentu," ujarnya. Akhirnya, dengan ditemani panitera, mereka pergi ke bilik tertutup di belakang mimbar untuk memastikan wajah Yulianis.

Gaya berbusana Yulianis ini lalu diikuti Dharnawati, pengusaha PT Alam Jaya Papua yang tersangkut kasus suap Dana Percepatan Infrastruktur Daerah (DPPID). Saat diciduk petugas Komisi Pemberantasan Korupsi di kawasan Otista, Jakarta Timur, 25 Agustus 2011 lalu, Nana--sapaan akrabnya--sama sekali belum berselubung kerudung.

Penampilan Nana baru berubah saat berkasnya mulai digarap penyidik KPK. Beberapa kali mendatangi kantor KPK, Nana tampil dengan gamis dan jilbab hitam, tanpa cadar. Hingga kasusnya bergulir di pengadilan dan ia dijatuhi vonis 2,5 tahun bui, Nana konsisten dengan gaya barunya itu.

Menurut Djaka Sutrasta, pengacara Nana, saat mereka berkenalan dan selanjutnya ditunjuk untuk mendampingi, Nana sudah berjilbab. Namun Djaka mengaku tak pernah menanyakan kapan Nana mulai memakai kerudung. "Klien kami memang memilih berjilbab. Bahkan saat konsultasi dengan saya di tahanan pun ia tetap berjilbab," ia menerangkan.

"Tren" berjilbab saat tersandung perkara hukum mungkin dimulai oleh Inong Malinda Dee, yang terjerat kasus penggelapan dana nasabah Citibank. Malinda, yang semula senang tampil terbuka, tiba-tiba muncul dengan busana tertutup dan berkerudung dalam setiap persidangan. Tersangka kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI), Nunun Nurbaetie, yang semula tak berkerudung, pun kini juga menutup rambutnya dengan selendang atau kerudung.

Tak ada yang tahu alasan pasti mengapa mereka tiba-tiba berjilbab. Kata Oktarina, ia dan Yulianis memilih bercadar karena takut diteror kubu Nazar. Yulianis mengaku sudah berjilbab sejak 1994, meski tanpa cadar. Ia memutuskan menutup sebagian wajahnya setelah Rosa ditangkap.

"Kalau kami tidak pakai cadar, nanti wajah kami terpampang dan kelompok Pak Nazar bisa mengejar-ngejar kami," kata Oktarina. Nazar menepis tudingan bahwa kubunya menebar ancaman. "Enggak mungkin," katanya.

Mana yang benar? Entahlah. Yang pasti, khalayak tak pernah mengetahui wajah mereka sebenarnya.

ISMA SAVITRI

 

Sumber gambar dan berita.


Tag: kasus, Nunun Nurbaeti, Malinda Dee, nazar, Yulianis, cadar, gamis

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Maximillian 2 suka | 0
Itu "semiotika" namanya... : ))
The Crow 1 suka | 0
sarapan politikana: [Kalau saya melihat mereka, terkadang terbersit pertanyaan, untuk apa mereka menggunakan atribut itu?] Have anyone ever thought of checking if it's really them behind those veils?
; ))
Maximillian 0 0
The Crow: Bald : ))
sarapan politikana 0 0
The Crow: Ada. Ya si Nazar itu...

[Hal ini rupanya membuat Nazar penasaran: benarkah perempuan yang sedang bersaksi itu Yulianis? Menurut Nazar, Yulianis yang ia kenal bukan seperti itu. Maka, ia pun ingin melihat wajah di balik cadar itu.

Sontak Yulianis menolak. "Tidak, saya tidak mau. Kalau Pak Nazar mau lihat, saya bersedia di ruangan tertentu," ujarnya. Akhirnya, dengan ditemani panitera, mereka pergi ke bilik tertutup di belakang mimbar untuk memastikan wajah Yulianis.]

: D
The Crow 0 0
sarapan politikana: [Ada. Ya si Nazar itu...] I meant from the law enforcer's side.
mbah joebir 0 0
Untung ada jilbab... : D

Diantara manfaat jilbab dan cadar adalah berguna untuk kamuflase. *terutama bagi pelaku kriminal akan sangat membantu.

Yang lainnya.......... hanya Tuhan yang tahu.
don espresso 0 0
mbah joebir: yang lainnya......hanya dia dan Tuhannya kali mbah ? hehehe
mbah joebir 0 0
don espresso: Yo'i... hehe : )
TTTH 0 0
Yulianis (kanan). Lalu yang di kiri siapa? Penerjemah? : o
TTTH 0 0
TTTH: Oktarina Fury : \
TTTH 0 0
TTTH: She's a furyan?
TTTH 0 0
TTTH: Converted into Necromonger
TTTH 0 0
TTTH: All hail Riddick!
The Crow 0 0
TTTH: [She's a furyan?] Naaah, simply a citizen of the New Mecca. Probably one of Imam's relatives.
TTTH 0 0
The Crow: : D: D: D
boiga 0 0
birokrat2 di atas sana biasa pake topeng, mengapa mereka gak boleh pake topeng?

*eh..

Silahkan login untuk memberikan pendapat