Dongeng Sekolah Jaman Dulu 5

Minggu, 12 Feb '12 15:05, dibaca 340 kali

Istri saya ini boleh dikatakan butahuruf walaupun pernah mengenyam pendidikan sampai kelas enam Sekolah Rakyat ( sekarang SD ). Mengapa demikian....? Tulisan nya jelek, sulit dibaca, dan membaca juga tidak lancar.

Istri saya ini sewaktu kecil berdiam dipelosok desa di kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta. Sesuai dengan namanya yaitu Gunung Kidul ( Gunung Selatan ) , wilayah itu memang bergunung gunung. Dari rumah istri saya untuk mencapai jalan raya yang sudah diperkeras dengan batu kali tapi belum beraspal harus berjalan kaki sekitar lima sampai enam jam.

Kehidupan sehari harinya adalah bertani padi dan tanaman pangan yang lain pada pada musim hujan ( tanaman tadah hujan ) , sedang pada musim kemarau hanya bisa tumbuh ketela pohon ( singkong ).

Nah kejadian ini adalah dongeng istri saya ketika sekolah mulai tahun 1949  sampai dengan tahun 1955.

Ada satu SDN dengan beberapa guru laki laki untuk beberapa kalurahan. Murid murid ada yang harus berjalan kaki selama tiga jam , karena wilayahnya tidak ada yang bisa ditempuh dengan sepeda. Sepeda waktu itu merupakan barang yang mewah. Hanya orang orang kaya atau pejabat desa yang bisa memiliki sepeda. Selain itu tanahnya adalah tanah liat merah, sehingga kalau musim hujan maka sebagian besar tanah akan melekat pada kaki.

Dengan demikian  kelas tidak akan pernah penuh seratus persen. ada saja beberapa murid yang tidak masuk. Murid murid tidak ada yang memakai sepatu karena sepatu waktu itu merupakan barang yang langka dan amat mewah.

Pada musim hujan, lebih dari 70 % siswa tidak masuk, karena mereka harus membantu orang tuanya menanam padi dan tanaman pangan yang lain yang hanya bisa tumbuh di musim hujan.

Cerita lucu terjadi pada waktu ujian akhir kelas enam. Ujian akhir waktu itu diselenggarakan pada akhir bulan Juni yang waktu itu sudah masuk ke musim hujan.Pada saat ujian akan dimulai ternyata siswa yang hadir baru 30 %, karena siswa  banyak yang tidak masuk , membantu orang tuanya menanam padi dan tanaman pangan yang lain.

Akhirnya diputuskan bahwa guru guru termasuk kepala sekolah dan tukang kebun menjemput kerumah masing masing siswa dan diboncengkan dengan sepeda kesekolah. Itu saja waktunya tidak cukup karena jumlah yang harus dijemput cukup banyak, dan jarak rumah masing masing siswa dengan sekolahan cukup jauh dengan jalan yang berbukit bukit.

Kepala Sekolah terpaksa minta tolong Bapak Dukuh setempat agar mengerahkan warganya membawa murid murid kelas enam tersebut kesekolah.

Kejadian lucu terjadi ketika Kepala Sekolah menjemput salah seorang siswa putriya yang dikelas mempunyai tubuh paling besar dibanding dengan teman teman sekelasnya.Ketika Kepala Sekolah sampai kerumah  siswa putri tersebut ternyata siswa putri itu sedang dirias walaupun belum komplit baru kira kira 25 %  karena malam harinya akan  dinikahkan.Didesa tersebut sudah umum anak putri menikah pada usia sebelas tahun .

Karena menikah pada usia yang sangat muda dimana jiwanya sedang labil, maka biasanya hanya bertahan paling lama lima sampai dengan enam tahun. Jadilah di desa itu terdapat banyak janda berusia amat muda, yang kemudian menikah lagi, sehingga seringkali punya beberapa anak dengan ayah yang berbeda beda.

Kita kembali ke masalah semula....

Ketika kepala sekolah mohon agar anak tersebut menempuh ujian terlebih dulu sebelum menikah, orang tuanya dengan tegas menolak mentah mentah. Untuk apa ijazah bagi anak putri... toh nantinya cuma didapur pekerjaannya. Akhirnya dengan pertolongan Bapak Lurah, orang tuanya mengijinkan siswa putri tersebut dibawa kesekolah untuk menempuh ujian, walaupun dengan muka  yang sudah dirias.

Waktu itu Pak Lurah adalah jabatan seumur hidup yang amat dihormati dan disegani oleh warganya.

Jam  ujian pada hari pertama terpaksa diundur hampir  empat jam.Pada hari kedua dan ketiga  ujian, sudah mulai lancar walaupun masih antar jemput, disamping itu beberapa pemuda desa menyediakan diri untuk  antar jemput murid diwilayahnya, sedangkan untuk siswa putri yang sudah menikah malam harinya , pada keesokan harinya  diantar dan ditunggui oleh suaminya sewaktu ujian.

Jadi masalah kwalitas jangan ditanya... karena pasti amburadul.

Pada akhir ujian, dari tiga puluh siswa hanya tiga orang yang dinyatakan lulus. Semua siswa yang menempuh ujian memperoleh sertifikat yang disebut ijazah atau Surat Tanda Tamat Belajar, yang menyatakan bahwa siswa tersebut telah menempuh sekolah dari kelas satu sampai dengan kelas enam., sedang tiga orang siswa yang lulus ujian , disamping menerima Ijazah juga menerima Surat Tanda Lulus Ujian yang berisi nilai dan mata pelajaran yang diujikan.Istri saya termasuk siswa yang tidak lulus ujian.

Waktu itu Ijazah bagi yang tidak lulus sudah dapat dipakai sebagai syarat untuk melamar pekerjaan atau melanjutkan sekolah SMP swasta.

Murid murid tersebut dari kelas satu sampai dengan kelas enam tidak pernah membeli alat tulis, karena memang tidak mampu. Alat alat tulisnya diperoleh dari guru kelas  masing masing, dan dibantu oleh Bapak Lurah setempat.Alat tulisnya masih amat sederhana, karena hanya terdiri dari Sabak sebagai tempat menulis dan Grib  sebagai pensil.serta sebuah buku gambar.Sedang mulai klas lima alat tulisnya bertambah terdiri dari dua buah buku tulis untuk mata pelajaran Berhitung dan mata pelajaran Pengetahuan Umum serta  sebuah buku gambar. semuanya gratis dibantu oleh sekolah dan pihak Pemerintah Kalurahan.
Semua buku buku tulis beserta perlengkapannya selalu ditinggal disekolah sejak kelas satu sampai dengan kelas lima, sedang untuk kelas enam boleh dibawa pulang untuk belajar dalam rangka menempuh ujian.
Kemudian yang cukup  menarik adalah Kepala Sekolah beserta beberapa guru selalu mengantarkan  siswa yang telah lulus tersebut untuk mencari dan mendaftarkan siswa tersebut  ke jenjang sekolah yang lebih tinggi.
Sampai sekarang ini istri saya masih ingat dengan gamblang wajah wajah guru SD-nya yang amat sabar dan penuh dedikasi dalam mengajar, walaupun gajinya sering terlambat.

Sumber gambar :
http://buku-lawas.blogspot.com/2010/11/sabak-dan-grib-alat-tulis-anak-sekolah.htm


Tag: pendidikan dasar

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

PakBodong 0 0
Saya posting OOT untuk mengisi kesepian di Politikana.
Gambar diatas adalah gambar Sabak dan Grip.
salam kompak selalu.
djibrieljd 0 0
Di Banten persoalan ini tidak perlu melihat ke tahun lampau. Baru-baru saja dunia (bukan lagi Indonesia) digegerkan oleh jembatan "India Jones" di Lebak. Puluhan anak SD setiap hari (ingat: 2 kali sehari) hari mempertaruhkan nyawa melewati jembatan itu, hanya untuk pergi dan pulang dari sekolah. Hidup semangat rakyat Banten. Terkutuklah pemimpin Banten !!!
Coulrophobia 0 0
PakBodong:

[mengisi kesepian di Politikana]

kelihatan banget yah?
pradaksina 0 0
Omong2 editor bahasa majalah tempo kalo gak salah menggunakan kata sabak sebagai terjemahan ipad dan kawan2nya.
mbah joebir 0 0
Dulu para Guru cari-cari murid agar mau sekolah; sekarang sekolah dicari-cari.., tapi hanya sedikit mau menampung (gratis) --selebihnya jual mahal.

Silahkan login untuk memberikan pendapat