Amerika Serikat Bangun "Kuda Troya" di Indonesia 12
Selasa, 14 Feb '12 12:52, dibaca 777 kali
Pada 1 Desember tahun lalu, Susilo Bambang Yudhoyono meminta Kementrian Luar Negeri untuk memanggil pulang duta besar Indonesia di Damaskus, Suriah. Pemanggilan itu katanya untuk konsultasi sekaligus antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, kata Kementrian waktu itu. http://www.mediaindonesia.com/read/2011/12/01/280528/284/1/Dubes-RI-Untuk-Suriah-Dipanggil-ke-Jakarta
Dan beberapa bulan terakhir ini kita semua tahu, Amerika Serikat dengan dukungan Turki, Liga Arab terutama Arab Saudi dan Uni Eropa sudah terlebih dahulu mengencangkan karet gelang tekanan kepada rezim Bashar Assad. Mereka menggalang dukungan dari sana sini dan intinya ingin Assad berhenti keras kepala. Mereka ingin Suriah melepas dukungan pada Iran, Hizbullah dan Hamas; trio perlawanan yang sukses mengandaskan mimpi hegemoni Amerika di Timur Tengah. Puncak kegeraman AS dan terutama Saudi Arabia pada Suriah adalah pada sidang PBB pekan lalu yang di Veto oleh China dan Rusia.
Orang sedunia sudah tahu kalau, kelompok yang mengacaukan Suriah selama ini adalah gerombolan teroris didikan Amerika Serikat yang dibiayai langsung oleh negara-negara Arab, utamanya Saudi Arabia. Di koran Washington Post misalnya pernah memuat laporan skenario itu yang dikutip langsung dari kawat diplomatik yang dibocorkan situs Wikileaks. The Post mengungkapkan, kawat diplomatik Amerika Serikat menunjukkan kalau Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menggelontorkan dana sebesar USD6 juta pada MJD sejak 2006. Dana dari Amerika Serikat untuk pemberontak Suriah yang mulai mengalir saat pemerintahan mantan Presiden Amerika Serikat George W Bush setelah dia secara efektif membekukan hubungan politik dengan Damaskus pada 2005.
Dan pendanaan itu berlanjut hingga kini di bawah pemerintahan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.
Menurut The Post, Diplomat Amerika Serikat memaparkan pemerintah Suriah tidak meragukan lagi adanya dana Amerika Serikat yang masuk ke gerakan politik ilegal sebagai upaya mendongkel pemerintahan berdaulat saat ini.
Sementara di Jakarta, sebagian kalangan mulai merasa kalau haluan Indonesia-Amerika dalam politik luar negeri Presiden Susilo sebagai sesuatu yang tidak lagi mencengangkan, tak ada hal baru di medan terbuka ini. Sebab, pada Kamis 9 Februari 2012, Pentagon dari jauh sowan ke Indonesia untuk meyakinkan kembali tekad Jakarta dan komitmenya atas pemberian hibah dan utang di berbagai bidang. http://www.intelijen.co.id/warta/1834-pentagon-ke-jakarta
Tentu kedatangan Pentagon ke Jakarta dengan membawa proyek, apalagi ini terkait erat dengan agenda besar Amerika Serikat di Suriah dalam upaya meruntuhkan langkah Iran dan tentu juga terkait dengan kepentingan Amerika Serikat di Papua. Dan kemesraan Jakarta-Washington terbukti dengan adanya noktah kesepakatan pembangunan KUDA TROYA di kawasan Sentul, Bogor (13/2/2012).
Situs Oke Zone menyebut dalam laporannya sebagai bentuk misi pemeliharaan perdamaian Indonesia-Amerika Serikat. Sebuah usaha mega proyek "Indonesian Peace and Security Center" yang akan menelan biaya sekitar USD3,3 juta atau sekitar Rp29,7miliar (Rp9.013).
Dalam posisi hubungan perkembangan di Suriah dan Iran, Indonesia mau tidak mau terpaksa akan berpihak kepada Amerika Serikat dengan beberapa indikasi.
1. Di forum-forum resmi internasional, Indonesia nyaris menjadi juru bicara AS (masih ingat kasus Dino Pati Djalal di PBB) terkait saksi atas Iran. Walaupun selama ini pernyataan pejabat negara sekaitan program pembangkit nuklir Iran selalu bernada positif, mendukung hak Iran dalam pengembangan energi nuklir damai, dan cenderung jauh dari keinginan Amerika dan negara-negara sekutu yang gemar menhancurkan citra Iran dan menghukum Iran lewat aneka sanksi ekonomi. Tapi sejumlah telegram WikiLeaks menunjukkan kalau Jakarta bermuka dua dengan mendukung diam-diam sanski ilegal Amerika atas Iran di dalam negeri.
Telegram juga memunculkan kesan kalau Amerika begitu paranoid pada setiap kabar yang berisi kemungkinan Iran bisa berinvestasi dan membangunan hubungan dengan kalangan sipil dan militer di Indonesia:
2. Selama ini birokrat negara selalu tunduk pada tekanan Kedutaan Amerika. Indikasi itu sangat jelas dan nyata mengingat dalam sebuah telegram bertajuk "Iran -- Indonesia To Urge For Release Of Detained Amcits", dikawatkan pada 19 Februari 2010 dengan marka SECRET//NOFORN, Duta Besar Amerika, Cameron Hume, menulis: "Jurubicara presiden, Dino Djalal, bilang ke DCM pada 19 Februari kalau Indonesia akan meminta Iran melepas tiga warga Amerika yang ditahan di Iran dengan peritmbangan kemanusiaan. Bekas Sekretaris Jenderal D-8, Dipo Alam akan bertandang ke Tehran pada 1 Maret sebagia bagian dari serangkaian kunjungan ke para pemimpin negara-negara D-8. Alam dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Manouchehr Mottaki dan kemungkinan Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Djalal bilang ke kami kalau atas nama Pemerintah Indonesia (dan bukan Amerika Serikat), Alam akan meminta Iran melepas warga Amerika yang ditahan dengan pertimbangan kemanusiaan ... ."
3. Dalam telegram lain, ada terekam kalau Djalal menjadi ‘mata dan telinga' Kedutaan Amerika dalam melaporkan pertemuan antara Presiden Yudhyono dan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Sayyid Ali Khamenei.
4. Telegram bertajuk "Demarche Delivered Regarding Preventing Establishment Of Iranian Joint Bank In Indonesia", dikawatkan pada 10 September 2008, menyebutkan kalau: "orang-orang penghubung di pemerintah Indonesia telah mengkonfirmasi kalau Bank Melli Iran telah menanyakan aturan bisnis bank asing di Indonesia, tapi belum melayangkan surat permohonan untuk membuka cabang, anak perusahaan atau bermitra dengan Bank Panin atau institusi keuangan Indonesia lainnya.
Seorang pejabat di Kementrian Luar Negeri bilang kalau Deplu belum lama ini menggelar pertemuan antarlembaga dan sebuah pertemuan dengan kalangan bank dan komunitas bisnis dan membriefing mereka sekaitan implikasi saksi atas Iran dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB (UNSCR) belakangan ini.
5. Telegram lainnya mengungkap keleluasaan diplomat Amerika mencari tahu segala hal terkait bisnis perusahaan Iran di Indonesia, utamanya via Pusat Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), yang dalam telegram digambarkan sebagai "lembaga penerima bantuan USAID". Telegram lain menyebut adanya permintaan bantuan dari Yunus Hussein, bos besar PPATK, ke DOJ/OPDAT (Departement of Justice/ Office of Overseas Prosecutorial Development, Assistance and Training) agar pemerintah Amerika "membantu perumusan draft Rancangan Undang-Undang Pendanaan Terorisme".
6. Bocornya langkah-langkah Agung Laksono dalam membina hubungan dengan kalangan parlemen di Iran. Dari sumber yang sama pula, diplomat Amerika bisa mendengar lebih awal tentang langkah-langkah politik pilihan pemerintah sekaitan program pembangkit nuklir Iran yang ditentang habis-habisan oleh Amerika, tentang hal-hal yang dikerjakan Presiden Yudhoyono kala berkunjung ke Tehran dan apa saja isi pembicaraan antara Agung dan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, saat yang terakhir berkunjung ke Jakarta. Di telegram lainnya, diplomat Amerika menggambarkan Agung sebagai sudah lama bersimpati pada Iran.
Dan masih banyak lagi, semua informasi mengenai hal-hal kemesraan Jakarta-Pentagon bisa di search dengan kode-kode dibawah ini pada situs http://www.cablegatesearch.net/search.php atau di sini http://cables.mrkva.eu/ orang-orang didikan AS di Indonesia.
- Search; "With Death Of Key Terrorist Confirmed, Police Continue Full-court Press", dikawatkan dari Jakarta pada 23 September 2009 oleh perwira politik kedutaan, Joseph L. Novak
- "Scrutiny Of Bank Century Bailout Iccreases", dikawatkan dari Jakarta pada 6 November 2009, langsung oleh Duta Besar Cameron Hume
- "Papua - Tentative New Efforts To Address Grievances", dikawatkan dari Jakarta pada 6 Maret 2009
- "Human Rights - Encouraging Indonesia To Implement Truth Commission Report", dikawatkan dari Jakarta pada 20 Oktober 2008, perwira politik kedutaan, Joseph L. Novak
- "Special Envoy Rickman Meets With Jewish Community In Surabaya", dikawatkan dari Jakarta pada 7 Augustus 2008, Principal Officer Konsulat Amerika di Surabaya, Caryn R. McClelland
Langkah pemerintah Indonesia terkait konflik di Timur Tengah dengan mudah bisa ditebak, sebab beberapa pekan lalu dan di bulan-bulan yang lalu, presiden sendiri yang memberi restu ke seorang pangeran Arab Saudi (Bandar Bin Sulthan) yang datang ke Jakarta untuk mencari dukungan invasi Arab Saudi ke Bahrain; sebuah langkah kuda yang bertujuan menyokong tahta keropos Dinasti Al-Khalifa sekaligus memberangus jutaan demonstran yang menuntut perubahan politik hanya dengan modal takbir dan shalawat.
Jika presiden bisa mentolerir langkah brutal pasukan militer Saudi di Bahrain, kanapa pula presiden perlu ‘tersumbing' saat Damaskus mengirim militer untuk menjawab pemberotakan bersenjata yang telah menewaskan ratusan polisi dan tentara Suriah?
Mengapa pula AS, Eropa dan negara-negara Arab mengerendel mulut busuknya terkait pembunuhan rakyat di Mesir, di Yaman, di Bahrain, di Palestina dan Saudi Arabia? Mengapa pula para pemimpin ber-igal itu tiba-tiba menumpahkan amarahnya kepada Suriah? Satu yang pasti jawabanya ada pada link intelijen. http://www.intelijen.co.id/utama/1745-2012-konflik-timur-tengah-meluas-3
Ada alasan yang lebih urgen bagi AS, Eropa dan Liga Arab dari sekedar menjatuhkan pemerintah berdaulat Bashar Al-Asad, yaitu memutus jalan logistik Iran lewat Suriah untuk HAMAS dan Hizbullah. Dan jika Suriah tumbang, langkah selanjutnya adalah membumi hanguskan IRAN. Jadi, Suriah hanyalah mukaddimah untuk selanjutnya menumbangkan Iran. Ini semua dilakukan demi mewujudkan eksistensi Israel di kawasan yang mulai keropos sejak Mesir mengalami revolusi dan tidak lagi menjadi mitra cantik Israel.
Sementara selama ini kedutaan AS adalah perwakilan resmi bagi kepentingan Israel di Indonesia. Indikasi itu sangat jelas dan nyata, banyak dokumen-dokumet dari pemerintah AS yang tersebar soal rekanan akrab antara Indonesia-Israel.
- "More Activity In Indonesia On Middle East Issues", dikawatkan pada 15 Februari 2007
- "World Ocean Conference - Raising Israeli Participation", dikawatkan pada 1 April 2009
- "Discouraging Tni From Taking Manpads To Unifil Mission", dikawatkan dari Jakarta pada 3 Oktober 2006 merekam pernyataan Charge d'Affaires Kedutaan Amerika, John A. Heffern, dengan kalangan birokrat di Jakarta sekaitan masuknya senjata MANPADS (man-portable air-defense systems)
Semua kode-kode diatas dengan mudah didapatkan di internet. Atau bisa merujuk ke situs ini; http://www.cablegatesearch.net/search.php atau di sini http://cables.mrkva.eu/
Dan di luar semua itu, tidakkah Jakarta perlu berpikir kalau ada kemungkinan tangan-tangan asing yang mengencangkan gendang perlawanan kelompok bersenjata di Papua, dan Jakarta akhirnya terjepit di hadapan Amerika, persis seperti Suriah saat ini?
Bukankah selama ini Jakarta begitu fasih siapa mereka yang pegang gagang remote kontrol gerakan OPM di Papua?
Bukankah tahun 2005 lembaga Amerika Serikat RAND Corporation, sebuah lembaga thinktank Amerika Serikat pernah membocorkan rekomendasi yang isinya Indonesia akan dipecah menjadi delapan negara kecil? Pemecahan itu demi kepentingan geopolitik dan hegemoni Amerika Serikat?
Satu dari delapan negara itu sudah berhasil, adalah Timor Timur, Aceh [damai dalam sekam], Ambon [damai dalam sekam], Papua [sedang mencekam], Kalimantan Timur, Riau, Bali dan sisanya bernama Indonesia. Rekomendasi itu muncul sejak tahun 1998.
Tapi, dengan indikasi ini semua, di Jakarta hari-hari ini, orang-orang didikan Amerika Serikat yang terekam dalam dokumen WikiLeaks masih bisa tenang dan bernafas lega. Sebab, pemerintahan Presiden Susilo sejauh ini memilih ‘menganggap sepi' semua bocoran WikiLeaks, mungkin sebab banyak di antaranya bercerita tentang rumor miring keluarga presiden, mungkin pula sebab membicarakan dokumen sama saja ‘mengamputasi' diri sendiri, di tengah fakta banyaknya telegram yang memuat cerita kontak rutin hampir semua kalangan, dari politisi, pejabat, polisi, tentara, birokrat, pegiat media dan LSM, dengan kalangan diplomat Amerika Serikat.
Ironis sebuah perjalanan negeri yang tersandra oleh bangsa lain hanya gara-gara utang dan hibah beracun. [on]
Sumber gambar; Oke zone
Tag: Amerika Serikat, nasional, wikileaks, Kuda Troya politik, Amerika Serikat Bangun Pangkalan Militer di Bogor
Terkait:
-
Jarum Halus Infiltrasi (2); Kedutaan Amerika dan 17.000 Orang Antek Berbakat di Indonesia
Sabtu, 22 Okt '11 19:20 -
Telegram Dari Setan Besar (2): Kisah Orang-Orang Peliharaan Kedutaan Amerika di Jakarta
Selasa, 13 Sep '11 05:02 -
Indonesia "bukan" Gudang Rongsokan!
Sabtu, 2 Jul '11 10:07
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
yusro: Penting
-
djibrieljd: Inspiratif
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
TTTH: Penting
-
botaksakti: Menarik
-
conscientizacao: Menarik
-
Last Man Standing: Lucu
-
Whispering Wind: Menarik
-
mbah joebir: Penting
-
The 7: Bagus

Komentar:
Negara Bagian Republik Indonesia
Negara Bagian Provinsi Banten...
*omaigat*
Jadi inget sama penumpang pesawat yg duduk di sebelah saya, entah knapa si bule itu ngajak ngomong tanpa ujung pangkalnya "indonesia can do nothing without america... your electricity and telecommunication and many things are depent to america... bla bla"
Saya jawab dg bhs inggris yg buruk "We can kill somebody like you who dare to insult my nation..." Emosiiiiii campur bad english.
Kok penjawab pertanyaan wartawan, telah siap contekan ketika menjelaskan hutang luar negeri.
Mengapa mesti ada kuda Trojan lagi kalau Kuda Lumping saja sudah memadai? Silahkan negara tercinta bikin pangkalan "keamanan" di sini. Pangkalan Militer cukup di Australia aja...... Filipina sekarang ini mungkin hanya pelengkap. Tapi sudah cukup kok.
Yang ironis kan negeri ini, Yang pinter ya rakyat indonesia sendiri, yang dari dulu nggak ada bosen-bosennya memilih pemimpin/wakil , yang cuma memikirkan perutnya sendiri....
Silahkan login untuk memberikan pendapat