Membalas Artikel botaksakti: Di Banten udah duluan! 22
Kamis, 23 Feb '12 19:06, dibaca 299 kali
Guru Debus Maut Masih Diburu Polisi
* Belajar Debus, 2 orang tewas 1 terluka
Serang - Abah Jaenul, guru debus warga Lingkungan Kebanyakan, Kelurahan Sukawana, Kecamatan Serang, Kota Serang, Banten yang menyiramkan air keras terhadap tiga muridnya, hingga mengakibatkan dua orang tewas dan satu orang terluka masih diburu. Namun hingga saat ini, polisi masih terus memeriksa beberapa saksi yang mengetahui kasus tersebut.
Kapolres Serang, AKBP Adi Soeseno mengaku, telah menyebar anggotanya untuk mencari Abah Jaenul yang lari setelah kejadian tersebut. "Kami masih melakukan pencarian terhadap Abah Jaenul," kata AKP Hadi Santoso, Selasa (22/02/2012)
Menurut Kapolres, anggotanya telah memeriksa beberapa saksi diantaranya Rohman Abdurohman, korban yang mengalami luka di tangan kananya dan Hendro serta istri Abah Jaenul. "Isteri Jaenul telah kami mintai keterangan, namun hingga saat ini Jaenul yang telah dimasukan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dan ditetapkan tersangka itu belum diketemukan keberadaannya," katanya.
Berdasarkan keterangan isteri Jaenul, kata Kapolres, suaminya memang sering melakukan praktek uji kekebalan tubuh terhadap orang yang mau belajar kepadanya. Namun biasanya, air keras yang dijadikan bahan uji coba itu terlebih dahulu dicampur dengan air biasa, sehingga kadarnya berkurang.
"Biasanya sang istri yang bertugas mencampur air keras itu dengan air. Namun untuk peristiwa kemarin, air keras langsung dibawa korban, sehingga tidak sempat dicampur. Akibatnya, dua orang meninggal, dan satu mengalami luka bakar serius, termasuk Jaenul," papar Adi.
Diterangkan Kapolres, perbuatan Jaenul bias terjerat pasal 351 ayat 3 tentang penganiayaan yang menyebabkan orang meninggal dunia. "Kami terus mengembangkan penyidikan kasus ini, karena dua orang yang mengantar ke rumah Jaenul juga belum ditemukan," tuturnya.
Kasat Reskrim Polres Serang AKP Hadi Santoso mengaku, dirinya masih memerlukan keterangan dari Abah Jaenul terkait kejadian itu. Sebab kronologis kejadian yang sesungguhnya akan bias terungkap. "Kami masih membutuhkan keterangan dari Abah Jaenul," ujar dia.
Sebelumnya, Dedi Supriadi, 26 dan Andri, 26, warga Cilingcing, Jakarta Utara, tewas setelah disiram air keras saat belajar debus (ilmu kekebalan tubuh). Selain dua korban tewas, satu orang teman korban lainya yaitu Rohman Abdurohman, 30, yang juga warga Cilingcing, Jakarta Utara mengalami luka melepuh dilengan kananya.
Peristiwa ini terjadi saat Dedi Supriadi, Andri dan Rohman Abdurohman dan Hendro, 28, datang ke Banten dan menemui Abah Jaenul untuk belajar ilmu kekebalan tubuh atau debus pada Minggu (19/2) siang. Saat datang ke rumah Abah Jaenul, pada pukul 20.30 wib, ke empat pemuda itu kemudian menyampaikan keinginanya untuk belajar ilmu kekebalan tubuh.
Abah Jaenul yang di ketahi korban sangat sakti itu kemudian langsung menggelar ritual dan memandikan para pemuda itu dengan air yang telah diberi mantera dan dicampur bunga tujuh rupa. Usai dimandikan, ke empat pemuda itu langsung diuji coba dengan air keras secara bergantian.
Akibat uji coba itu, Dedi dan Andri yang disiram air keras dibagain dadanya tewas. Sedangkan Rohman Abdurohman terluka bagian lenganya, sementara Hendro tidak terluka karena belum sempat disiram air keras.
Sementara itu, keadaan rumah Jaenul di Lingkungan Kebanyakan, sangat sepi karena tidak berpenghuni. Nampak di belakang rumah tersangka terdapat garis polisi.
Menurut salah satu tetangga tersangka, Komarudin, 47, Jaenul beserta keluarganya baru pindah kurang lebih tiga bulan yang lalu. "Yang saya dengar Pak Jaenul ini berasal dari Penancangan, Kota Serang. Pindah kesini baru tiga bulan dan langsung membangun rumah. Lihat saja rumahnya juga belum selesai dibangun," kata Koimarudin.
Senada, isteri dari RT 01 RW 01 Lingkungan Kebanyakan, yang tidak mau disebutkan namanya itu mengungkap, ia tidak mengetahui persis apa yang menjadi pekerjaan Jaenul. Namun Selama ini, Jaenul beserta keluarganya terkenal ramah terhadap tetangga.
"Pak Jaenul belum mengurusi surat pindah domisili. Namun yang saya tau dia tinggal bersama isteri dan tiga orang anaknya yang sudah menikah. Saya juga tidak paham apa pekerjaannya, mungkin saja tukang becak, karena saya sering melihat dia mengayuh becak," terangnya. (sp)
Tag: Banten, kebudayaan
Terkait:
-
Mengenang Perjuangan Para Seniman Banten
Sabtu, 7 Apr '12 18:22 -
Oh Seniman Banten (bagian 2)
Jumat, 17 Feb '12 20:15 -
Ah Seniman Banten... (bagian 1)
Minggu, 12 Feb '12 20:36
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
botaksakti: Lucu
-
yusro: Lucu
-
The Crow: Lucu
-
Harlan Eryandi: Lucu

Komentar:
Semoga jadi pelajaran berharga bagi para peminat debus. Jangan sembarangan berguru.... apalagi tak jelas kompetensinya --boro-boro bersertifikat.
secara umum jawaban para guru guru itu hampir sama yaitu : "Kalau bisa lari , lari aja" ......dulu saya ketawa hahahahaha..sekarang terdengar sangat logis ...artinya " jangan cari masalah"
Saya juga dapat info... bahwa ilmu2 tenaga dalam tertentu (yg tidak natural spt kungfu atau karate) juga berpengaruh jelek terhadap daya pikir dan karakter seseorang. Akibat yg muncul bisa sakit2an (spt sakit kepala dan mag) atau jadi beringasan.
Hati-hati ya
dulu pernah maling tertangkap kebal pukulan ..terus ditelanjangi ternyata ada jimat di alkelnya .
setelah jimat diambil baru waduh waduh kena pukul
Use a 10 megaton hydrogen bomb.
Silahkan login untuk memberikan pendapat