No Risk No Gain... Maju Terus! 1
Kamis, 23 Feb '12 18:34, dibaca 176 kali
Habis begadang. Tidur jam 9 pagi. Baru lelap, HP menjerit-jerit minta digendong. Kudekatkan ke telinga. Suara Haerudin, Ketua LSM Garda Banten terdengar.
"Kang, semalam sekretariat kami hampir dibakar orang," katanya. Sekitar jam 2 malam, terlihat bayangan orang di jendela. Beberapa kali bolak-balik. Penghuni sekretariat pun langsung keluar. Bayangan tersebut melesat pergi. Diteriaki maling oleh penduduk sekitar. Motor scorpion atau vixen berwarna hitam membawanya kabur.
Pintu depan sekretariat LSM Garda Banten basah. Bau bensin menyeruak. Telat sedikit, api pasti muncul.
"Memang kami sedang melakukan investagasi kegiatan di beberapa dinas di Pemprov Banten," ujar Haerudin.
Sekretariat dijaga beberapa orang anggota. Ketua dan yang lain melapor ke kepolisian setempat.
Jadi teringat beberapa cerita yang belum lama terjadi. US, pemilik icon pelawan Atut, rumahnya sempat dikunci dari luar. Sekelilingnya sudah disiram minyak tanah. Untung saja US terbangun. Orang-orang itu kabur naik Avanza.
Lalu ada cerita dari MM. Politikus muda dari partai seperti matahari, tapi warna biru. Tengah malam ia dijemput untuk jadi narasumber. Di tengah jalan dikasih minum. Tiba-tiba mengantuk tak tertahankan. Bangun-bangun ada di tengah rawa. Gelap gulita. Dompet dan identitas lainnya hilang.
MM menelusuri jalan setapak. Penuh belukar. Ilalang menyaingi tinggi badannya. Tak terdengar suara kehidupan manusia. Serangga melantunkan orkestra. Lolongan anjing di kejauhan.
Setelah lama berjalan, naik turun setapak terjal, nampak setitik cahaya. Satu per satu lalu menjadi banyak. Akhirnya pinggir kampung terlihat. Adzan menggema, subuh tiba. MM sampai di pinggir Kecamatan Mancak. Rupanya MM dibuang ke kawasan cagar alam Rawa danau.
Cerita lain bermunculan, Eman Ketua LSM Gepak Banten di datangi 2 orang berbadan tegap. Rambut cepak. Ngomongnya sengak. Eman dipukuli hingga tersungkur. Dadanya pun jadi pengap.
Popi, Ketua LSM Ombak sedang asyik menerima telepon di tanah kosong sebelah Sekretariat AMJ. Tanpa disadari, seseorang mendekat. Langsung menyebatkan golok beberapa kali ke arah kepala. Kepala tak kena, tangan menjadi korban.
Lain lagi dengan (alm) Awong, Ketua Kompak Banten. Saat pawai akan berunjuk rasa, dicegat 4 orang bertubuh tegap dan cepak. 3 di antaranya masih menggunakan seragam. Kematian Awong pun masih menjadi tanda tanya.
Atau kisah RR, wartawan. Tiba-tiba ia ditelepon orang. Memerintahkan untuk berhenti mengganggu dinas-dinas. Jika tidak... suara di HP berganti, dari suara lelaki dewasa menjadi suara anak-anak.
"Pak, ade (xxx) lagi sama om. Ini lagi dibeliin kue,".
RR pun langsung lemas. Itu suara anak bungsunya yang masih di SD.
Kulihat kalender, angkanya jelas menyebutkan 2012. Zaman teknologi berkuasa. Manusia di dunia sudah berpikir berjalan ke planet-planet. Sementara Banten,... masih seperti hutan belantara. Siapa kuat, dia yang berkuasa. Nyawa (mungkin) bukan termasuk harta berharga bagi yang pegang kekuasaan.
Muaaakkkkkkkkk!
................................ Banten, tanah terkutuk.
Terkait:
-
Copast: Umroh Dibayarin Uang Rakyat
12 jam yang lalu -
Jakarta Buang Sampah, Warga Tetangga Mungkin Jadi Korban
Kamis, 24 Mei '12 03:11 -
COPAST: Mewariskan Trah dan Tahta "Kepala Daerah"
Rabu, 23 Mei '12 23:24
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
botaksakti: Menarik
-
yusro: Bagus
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
boiga: Penting
-
losun: Menarik
-
Whispering Wind: Menarik

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat