Komentar:

  • ........................

    neilhoja (6 Des 09, 6.20)

    bila begitu adanya... sepertinya bung Laksamana lebih berhak diterima permintaanya...

    : )

  • ........................

    Al Maari Mejja Kuursi (6 Des 09, 3.19)

    Agus PW: ini mah baru bangun. hehe..
    hamatamu: lah, Bung Laksamana sendiri yang ngomong di komen salah satu posting-tapi susah dicari lagi linknya. semua artikel udah didelete.

  • ........................

    hamatamu (6 Des 09, 3.10)

    jadi bung Al Maari Mejja Kuursi, bung Laksamana itu pimpinan pesantren ya? tahu darimana?

  • ........................

    Al Maari Mejja Kuursi (6 Des 09, 3.06)

    Striding Cloud: [Berpikir bahwa Anda cukup dewasa untuk menelan pahitnya konsekwensi peristiwa,..]

    sodara Striding Cloud, ane yakin ente mikirnya cukup jauh ke depan melebihi rata2 diantara kami(kayak biasanya ente lah).
    Bung Laksamana ini sedang berhadapan dengan dilema gede, berpengaruh pada kelangsungan lembaga yang dia pimpin. Kasus cibro ini, sesuai dengan keterangan beliau di salah satu komennya, telah digembar gemborkan media lokal dan nasional segitu serunya, hingga beliau mengkhawatirkan "kepercayaan publik" terhadap pesantrennya.

    Jangan2 orang bakal mikir2 kalo mau nitipken anaknya ke pesantren, khususnya pesantren yang dipimpin sodara Laksamana ini-semenjak kasus cibro meledak. apalagi jika kisah cibro ini jadi kita bukukan, alamak..

    so, dimata ane kita bukan lagi membahas perasaan.

    kita lagi membahas market.

  • ........................

    Striding Cloud (5 Des 09, 20.02)

    Laksamana:

    Pernyataan saya berikut:
    [_Berpikir bahwa Anda cukup dewasa untuk menelan pahitnya konsekwensi peristiwa, maka saya tuliskan._]

    Hendaknya jangan dianggap sebagai tusukan, tetapi sebagai sebuah cerita tentang pertimbangan saya ketika menuliskan.

    [Terimakasih Sdr. Icarus telah menunjukkan cara baca yang tidak saya pikirkan]

  • ........................

    boiga (5 Des 09, 15.33)

    maafkan kami bung Laksamana..

  • Mengapa Saya Menolak Buku ITU

    Red-White Eagle (5 Des 09, 15.20)

    Striding Cloud: I still hold on to my first opinion about letting cibro to live on in Politikana. As a matter of fact, I also still hold on to the idea I told you last night that I'd like to suggest Politikana's administrators to make cibro's profile page a static one; if possible to set his 'pamor' back to his latest top one he reached. That, at least would give us something to remember him by.

    And one more thing: please change the picture you use for this article. You'd only hurt Laksamana's feeling even more.

  • Mengapa Saya Menolak Buku ITU

    Red-White Eagle (5 Des 09, 13.43)

    Striding Cloud: As I've mentioned last night (or was it at dawn?), we shared roughly the same idea, referring to point 1 and point 2. Roughly. Not exactly the same. I didn't touch the idea of point 3 at all. The reason for 1 & 2 is the latest article posted by Laksamana here. I believe our fellow members involved in this mission should take 1 & 2 into more consideration if this mission should proceed. As a father myself, I can understand the parent's feeling of remorse. Laksamana, in a way, was also the father of cibro.

  • Mengapa Saya Menolak Buku ITU

    iloenx (5 Des 09, 11.07)

    krisnov: Maaf, yang menjadi kurang pas menurut saya, karena ID Cibro tidak identik dengan Alm. Yudi Sibero, ID Cibro dipakai juga oleh ID Ilmu 76, sehingga kita sulit melihat yang mana opini murni dari ID Cibro, karena sudah bercampur baur dengan opini Ilmu 76.
    Seperti pengakuan Ilmu 76 sendiri bahwa Cibro hanya membuat artikel coppas. Cibro tidak pure Cibro.
    -------
    Untuk kali ini, sekali lagi, saya sepakat dengan krisnov. Tumben komen2 Anda belakangan kok cerdas. Ini benar Anda, kan?..... pisss bro. : )

    saya termasuk yg pernah memberi komentar pujian untuk cibro saat membandingkannya dg'seseorang' yg jadi 'musuh bersama' di politikana. Belakangan saya baru tahu, ada kemungkinan koment2 cibro itu dibuat bung @ilmu76: ...... sesuai pengakuan bung @ilmu76: sendiri.

    Tapi, atau itu koment original cibro atau pendpat ilmu76, saya kira, sudah tak ada bedanya. Bagi kita di politikana, cibro pernah ada, dan kita bergaul di sini untuk suatu masa yang penuh warna, debat, saling ejek, bahkan jenaka juga. Sebuah buku kenangan untuk seorang teman, yang mengakhiri hidupnya secara tragis, saya kira pantas.

    Saya, kali ini, tidak sependapat HoD karena satu alasan saja: buku ini mungkin ditulis dengan tanpa menghakimi pola pengasuhan, tak memvonis sistem pendidikan Ponpse, dan tidak nge-judge mental pribadi cibro....... wallahu a'lam.

  • Mengapa Saya Menolak Buku ITU

    hamatamu (5 Des 09, 8.58)

    berarti permasalahannya adalah bagaimana bisa menanamkan kesadaran tersebut pada semua korban (termasuk kita?).
    selama komunikasi warga hanya searah saja dengan bung Laksamana saya kira istilah 'waktu mepet' anda harus dikuadratkan

  • Mengapa Saya Menolak Buku ITU

    hamatamu (5 Des 09, 8.47)

    tapi seandainya begini, bahwa buku ini akan memuat 'sosok' pengguna cibro yang dikenal warga Politikana kita kesampingkan dulu masalah ambiguitas identitasnya dengan Laksamana, bahkan jika seandainya tulisan-tulisan tersebut hanya sekedar alter ego dari yang bersangkutan. makah masalah hubungan mereka bukan menjadi masalah lagi. bagaimana krisnov?

  • Membumikan “Politik” ala Politikana

    hamatamu (3 Des 09, 16.24)

    masalah bukunya cibro lha ini jadi mengambang kembali lagi bung kinanthi, sudah baca postingan terakhir Laksamana? coba anda baca dahulu lantas baca postingan terakhir saya

  • Seandainya Saya Boleh Bermohon...

    agoos (3 Des 09, 5.31)

    Muhammad Tamim Pardede: anda benar bahwa kebenaran itu harus disampaikan seberat apapun, sesakit apapun. Laksamana: pun juga benar untuk mendiamkan pertanyaan ibu cibro tersebut.

    Mari kita belajar dari pendahulu-pendahulu kita, rasulullah, para ulama, dalam menyikapi pertanyaan seseorang sesuai kondisi orang tersebut.

    Dahulu ada seseorang pria yang telah mengucapkan talak 3 kepada isterinya dalam satu waktu. Ia kemudian bingung, apakah pada saat itu telah jatuh talak 3 kepada isterinya. Pria tersebut kemudian mendatangi seorang ulama untuk menanyakan hal tersebut. Ulama ini dalam setiap majelisnya berpendapat bahwa apabila terjadi hal yang demikian maka telah jatuh talak 3. Namun, melihat kondisi dari pria tersebut ulama ini tidak menjawab pertanyaan pria tersebut dan menyarankannya kepada ulama lain yang memiliki pendapat berbeda dengannya.

    Bukan hanya itu, rasulullah pun telah lebih dahulu mencontohkan kepada kita.

    Mengenai sikap Laksamana: dalam mendiamkan pentanyaan ibu cibro juga merupakan sebuah jawaban (sama seperti diamnya wanita, heheee). Ibu cibro sangat pasti sudah tahu jawabannya . Apabila Laksamana: menjawabnya bukan tidak mungkin akan muncul konsekuensi2 lain yang justru mungkin akan lebih besar mudaratnya. Bagaimana jika ibu cibro makin meratapi jenazah anaknya, semakin kehilangan arah dan lain sebagainya.

    Intinya di sini mari kita bersama-sama menyikapi seseorang sesuai dengan kadar ilmu dan keimanan yang ia miliki. Mari kita saling mengingatkan, namun dengan bahasa yang santun yang tidak mencederai perasaan orang lain. (Mario Teguh Mode ON nih)

    Walau kadang saya juga banyak salah; )). Tapi klo salah tolong diingatkan ya. : D

  • Seandainya Saya Boleh Bermohon...

    Leksa (2 Des 09, 22.19)

    Laksamana :
    Pak Ustadz yang budiman,
    benar apa kata Pak Ustadz di tulisan di atas..

    Saya bisa memahami keresahan bang Ilmu76. Karena sampai saat ini, posisi saya masih tidak melihat cibro di politikana sama dengan pengewajantahannya di dunia nyata. Dia cuma selesai sampai pada avatarnya, tidak ada bayangan entah setua apa org yang menulis dibalik keyboard bernickname cibro itu.

    Walau saya selama ini tidak begitu terlibat dengan sengkarut Cibro vis avis ilmu76, tapi harus saya akui, segala kepedulian Warga Politikana terhadap Cibro lebih kepada "kerinduan atas sosoknya yg rendah hati" dan juga "penghargaan atas pencerahannya" YANG HADIR di politikana. Entah itu sosok alm Yudi, atau itu org lain. Karena apa yang tercatat telah tercatat. Perkenalan warga P dengan segala afiliasi identitas Cibro sudah hadir di POlitikana. Sedikit atau banyak, iya atau tidak sama sekali.

    Oleh karena itu, bagi saya pribadi tidak jadi soal jika buku itu hadir dengan mengambil potret cibro di sosok nyata sebagai momentum mengenalkan kasus-kasus tragis serupa dibanyak tempat, di sekitar dunia pendidikan kita. Kedekatan warga P pada isu pendidikan kita yg carut marut, kritik pada kasus2 serupa ini sudah hadir sejak dulu, dan sekarang, ada seorang identitas yang dikenal dekat dalam interaksi maya menjadi salah satu korbannya. Korban sistem yg tidak adil ini.

    Bukan berarti saya mengatakan, pasantren mendiang tidak adil dan salah. Semua unsur pendidikan kita berada dalam sebuah sistem yang besar. Ada singgungan beberapa hal yang selama ini luput dari sistem, pelaksan, kita para warga negara, juga para pendidik yg terjun langsung dilapangan.

    Demikian pandangan saya...

  • Seandainya Saya Boleh Bermohon...

    Ibnu Muslim (2 Des 09, 21.10)

    Laksamana, ini sebuah tulisan yang sangat menyentuh. Kami warga Politikana masih merasakan duka atas kepergian beliau, ini benar-benar tulus.

    Laksamana
    [Saya berani memastikan bahwa dia tak pernah minta penghargaan apapun dari warga di sini, termasuk gelar sampah Majelis Ulama Politikana itu, walaupun dia pernah berbangga olehnya]

    saya mohon maaf atas gelar ini

    kami tidak akan menambah duka keluarga almarhum, Insya Allah masalah buku akan dibicarakan lagi dgn teman2 warga yang lain.

    Kami mencintai almarhum dengan segala lebih dan kurangnya

  • Kepada Warga P Saya Mohon Maaf....

    neilhoja (30 Nov 09, 5.11)

    Red-White Eagle: please also note, that the guardian had given so many chances for him... (as what Laksamana: narrated before).

    ------
    ah, tadinya ga mau berkomentar soal cibro, tapi yah... mungkin ini bisa jadi bahan pertimbangan sebelum ada yang mulai meluruskan jari telunjuknya ke arah siapa...

  • Cibro vs Cinta [Jok] : Sama-Sama Legenda Politikana-kah?

    Harlan Eryandi (24 Nov 09, 12.55)

    Laksamana: pesan yg baik tentu tak sia-sia, tak ambil hikmahnya, sangat manusiawi, tfs pak.

    ndableg: balik ke RS cuman mau liat sing kempling ... bolehlah, tp sehat terus ya kang. : )

  • Cibro Dalam Buku

    hamatamu (22 Nov 09, 13.08)

    nah setelah puas mengobral huruf-huruf diatas, bung Laksamana -nya dimana? : D

  • Cibro Dalam Buku

    hamatamu (21 Nov 09, 17.01)

    bung Red-White Eagle, "mas yusro, rasa-rasanya untuk hal-hal itu bisa didekati dengan cara 'redaksi' bisa memberi catatan kaki, agar tak kehilangan 'konteks' juga saya rasa mungkin ada semacam wawancara dengan lingkungan sekitar almarhum, termasuk bung Laksamana dan warga politikana yang lain, juga warga madrasah dimana almarhum pernah menimba ilmu. terima kasih"

    ya, itu salin-tempel dari komentar saya sendiri sebelumnya disini http://politikana…mment-118133

  • Cibro Dalam Buku

    Red-White Eagle (21 Nov 09, 16.58)

    hamatamu: No. That's not enough. Some interviews with those close to cibro is necessary, I think. And Laksamana can be the first one, and also be the main contact to get the others.


Komentar-komentar sebelumnya ▾
Loading...
Tidak ada komentar lagi